Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Wednesday, 5 Zulqaidah 1439 / 18 July 2018

Aplikasi Google Arts and Culture Gelar Eksperimen AI

Senin 19 March 2018 12:44 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Winda Destiana Putri

Aplikasi Google Arts and Culture Gelar Eksperimen AI

Aplikasi Google Arts and Culture Gelar Eksperimen AI

Foto: Mashable
Aplikasi Google Arts & Culture merilis tiga eksperimen kecerdasan buatan baru.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Google menerapkan algoritmiknya untuk bekerja untuk penemuan artistik. Aplikasi Google Arts & Culture merilis tiga eksperimen kecerdasan buatan baru.

Percobaan dikembangkan di lab Google Arts& Culture di Paris, Prancis. Google mengeksplorasi bagaimana pembelajaran mesin dapat meningkatkan pemahaman dan akses pengguna terhadap seni.

Semua eksperimen tersebut melibatkan alat baru yang memungkinkan pengguna menelusuri dan menemukan seni dan fotografi di arsipartistik yang tidak dapat diakses. "Setiap aplikasi eksperimental ini menjalankan algoritma AI di latar belakang untuk membiarkan Anda menemukankoneksi budaya yang tersembunyi di arsip," ujar pemimpin tim eksperimen di Lab Google Arts & Culture Damien Henry dalam sebuah pernyataan, dikutipdari Mashable.

Aplikasi Google Arts & Culture berorientasi menghasilkan popularitas saat pengguna menemukan sebuah bentuk yang sesuai dengan foto diri mereka pada sebuah karya seni terkenal. Hasil dari eksperimen yang sudah dilakukan, beberapa menghasilkan kecocokan, lucu, bahkan sedikir rasis.

Namun, aplikasi itu tidak hanya menawarkan fitur tersebut. Ada banyak fitur lain yang memungkinkan pengguna menjelajahi koleksi museum di seluruh dunia, belajar tentang seni, dan banyak lagi.

Eksperimen baru Google Arts & Culture yang pertama yang disebut Art Palette dapat merangsang selera, dekorasi rumah, dan pecinta desain. Pengguna aplikasi dapat memilih beberapa warna sebagai palet mereka, dan aplikasi tersebut kemudian akan menghasilkan karya seni klasik dan modern yang sesuai dengan palet.

Google bahkan melibatkan desainer Paul Smith untuk mencoba fitur tersebut untuk mendemonstrasikan bagaimana hal itu bisa menginspirasi desain busana. Smith terkenal dengan caranya sendiri, seperti dinding merah muda yang dipotret di Los Angeles adalah bagian dari lokasi unggulan untuk model.

Eksperimen selanjutnya memberikan akses yang mengesankan terhadap sejarah dan budaya Amerika. Dari mengenalkan pembaca kepada Gandhi untuk meliput perang di Vietnam, LIFE Magazine terkenal menangkap beberapa momen paling ikonik sejarah Amerika selama abad terakhir.

Namun, menurut Google, LIFE memiliki arsip yang membentang 6.000 kaki (sekitar 1.800 meter) di tiga gudang. Agar arsip ini lebih mudah diakses, Google telah memperkenalkan Life Tags, yang memungkinkan pengguna mencari dan menemukan foto LIFE berdasarkan topik.

Sedangkan, eksperimen ketiga seperti anugerah ke dunia seni dan pecinta seni modern. Rupanya, MoMa memiliki 30 ribu foto yang mendokumentasikan pamerannya sejak dibuka pada tahun 1929. Hanya saja, foto-foto tersebut sebenarnya bukan nama karya seni dan seniman tertentu yang ditampilkan dalam pameran. Google menggunakan mesin untuk mengidentifikasi karya seni modern dalam foto, dan membantu mengubah gudang foto ini menjadi arsip interaktif pameran MoMA.

"Kami berharap aplikasi eksperimental ini tidak hanya akan mengarahkan Anda untuk mengeksplorasi sesuatu yang baru, namun, juga membentuk percakapan kami seputar teknologi masa depan, potensinya sebagai bantuan untuk penemuan dan kreativitas," kata Henry.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA