Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Selasa, 10 Zulhijjah 1439 / 21 Agustus 2018

Startup Binaan Telkom Kembangkan Bisnis ke Selandia Baru

Selasa 17 April 2018 08:44 WIB

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Gita Amanda

Laman aplikasi beternak online, Angon.

Laman aplikasi beternak online, Angon.

Foto: Angon.id
Startup ini bekerja sama dengan WNI yang berprofesi peternak di Selandia Baru.

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Startup digital binaan program Indigo Telkom, Angon, mengikuti CEO Forum di The Majestic Centre, Selandia Baru, belum lama ini. Dari kegiatan tersebut, mereka akan segera bekerja sama dengan Warga Negara Indonesia (WNI) berprofesi peternak di negara tersebut.

Menurut COO Angon, Agif Arianto, peternak WNI yang ada di Selandia Baru, khususnya di Kota Auckland dan Wellington, rata-rata memiliki 10 ribu hingga 50 ribu ekor ternak dengan rata-rata lahan seluas 350 hektare. Jika kerja sama Angon dengan peternak Indonesia di negara tersebut sudah terealisasi, maka sangat menguntungkan keduanya.

"Member Angon atau mereka yang investasi ternak melalui startup tersebut, tak perlu repot mengurus izin investasi membeli tanah serta membangun infrastruktur peternakan dari nol," ujar Agif dalam siaran persnya, Selasa (17/4).

Agif mengatakan, mitra peternak Angon di Selandia Baru jelas dapat menekan biaya operasional peternakan. Sebab semua biaya dibayar member Angon saat mereka berbelanja hewan ternak melalui aplikasi tersebut. Peternak pun, akan lebih berfokus pengelolaan lahan untuk memastikan persediaan pakan bagi ternak, sehingga hewan ternaknya bisa tumbuh lebih baik.

"Di Selandia Baru, ternak tidak dikandangi, beda dengan Indonesia yang hewan ternaknya lebih banyak disuapi, katanya.

Menurut Agif, pihaknya bersama Kadin Bilateral akan kembali ke Selandia Baru untuk menyusun kerja sama bilateral secara lebih spesifik. Ditargetkan, bulan November nanti, hewan ternak milik peternak Indonesia di New Zealand sudah bisa di-online-kan melalui aplikasi Angon.

Saat ini, kata dia, Angon sudah memiliki 11.100 hewan yang diternakkan, dari 10 ribu lebih member aktif serta 800 transaksi di setiap bulannya. Sentra Peternakan Rakyat (SPR) mitra mereka tersebar di desa beternak online yang berlokasi antara lain di Wawar Lor Kabupaten Semarang, Jogjakarta, dan Bogor.

Selain itu, kata dia, sudah ada permintaan kemitraan dari peternak di Batam, Palembang, Kalimantan, dan Makasar namun terkendala infrastruktur dan standardisasi. Sehingga baru bisa dilakukan di sekitar Jawa sementara ini.

Selandia Baru, kata Agif, menjadi pilihan karena standar animal welfare dan pengolahan lahannya memakan waktu hingga 30 tahun. Maka itu, kualitas ternak di Selandia Baru berkualitas tinggi sekaligus banyak diterima secara global.

"Dengan aplikasi investasi kami, diharapkan bisa meningkatkan neraca perdagangan Indonesia," katanya.

Masyarakat Indonesia pun, kata dia, dapat memperluas peternakannya hingga ke Selandia Baru dengan mitra peternak yang juga WNI. "Dengan kata lain, ketika hasil ternak dibeli, sebenarnya kita tidak mengimpor, melainkan menggunakan produksi kita sendiri, hanya saja lokasinya di Selandia Baru," katanya.

Angon juga, kata dia, dalam rencana bekerja sama dengan pemerintah terkait rencana menjadikan Balai Latihan Kerja (BLK) sebagai tempat pelatihan calon mitra peternak yang ingin mendapatkan sertifikasi peternak. Jadi, setelah praktik di balai tersebut, calon mitra peternak mendapat sertifikat sebelum kandangnya dapat di-daringkan dalam aplikasi Angon.

Dari sisi layanan, kata Agif, pihaknya kini memberikan layanan bagi para member yang merasa tidak puas dengan kinerja mitra peternak Angon. Misalnya apabila selama dua kali ditimbang berat hewan ternak terus menurun, member dapat mengadu ke customer support Angon.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA