Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Sunday, 9 Zulqaidah 1439 / 22 July 2018

Fitrah Manusia Yakini Wujud Allah SWT

Senin 05 October 2015 15:42 WIB

Red: Agung Sasongko

Tauhid memiliki makna mengesakan Allah SWT.

Tauhid memiliki makna mengesakan Allah SWT.

Foto: Gambar-online.com

Oleh : KH Athian Ali

Secara fitrah, setiap manusia telah meyakini keberadaan wujud Allah SWT. Telah tercatat betapa panjangnya sejarah perjalanan berpikir manusia dalam mengeksplorasi alam pikirannya dalam pencariannya tentang wujud Allah SWT.

Dari sejak zaman dulu, manusia sudah disibukkan mencari Allah. Ada yang mencari Allah dengan akalnya, ada yang menyebutnya dengan penyebab utamanya, ada juga yang menyebutnya dengan istilah-istilah lain.

Diyakini atau tidak, sebenarnya keyakinan kita kepada Zat Allah hanyalah sebatas apa yang telah dijelaskan oleh Allah karena memang Allah SWT adalah zat yang Mahagaib. Allah SWT berfirman: Itulah Allah Tuhan kamu, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia, dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dia-lah yang Mahahalus lagi Maha Mengetahui. (QS al-An’aam [6]: 102-103).

Ayat ini dengan tegas menandaskan bahwa Allah SWT itu tidak bisa terjangkau oleh penglihatan atau indra kita. Karenanya, sudah pasti bahwa akal kita tidak akan bisa memahami tentang hakikat-Nya. Jadi, apa yang kita ketahui tentang hakikat Allah hanyalah sebatas yang telah diinformasikan Allah kepada kita. Di luar itu semua, kita tidak bisa mengetahui. Di sinilah pada gilirannya akan jelas perbedaan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Dalam perjalanan hidupnya, manusia telah, sedang, dan akan menempuh beberapa fase kehidupan yang mesti dilalui. Sebagaimana firman-Nya: Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS al-Baqarah [2]:28).

Disebutkan bahwa perjalanan hidup manusia melalui “empat” fase. Diawali dengan fase kematian (wa kuntum amwaatan), lalu yang kedua fase kehidupan (fa ahyaakum), yang ketiga fase kematian lagi (yumiitukum), dan yang keempat fase kehidupan lagi (yuhyiikum) maka selesailah sudah dan manusia kembali kepada Allah SWT.

Adapun, yang dimaksud kematian adalah ketika jasad tidak memiliki ruh, sedangkan yang diistilahkan dengan hidup adalah ketika ruh memiliki jasad. Setelah kita meninggalkan alam dunia ini maka kita akan memasuki alam lain, yakni alam Barzah, lalu setelah kiamat kita akan memasuki alam Mashsyar, kemudian masuk alam hisab atau Mizan, lantas alam Shirath, barulah kemudian kita akan masuk alam akhirat (manusia akan berada di surga atau neraka).

Mulai dari alam Barzah sampai alam Shirath inilah kembali manusia belum memiliki jasad, maka disebut dengan alam kematian lagi. Setelah di alam akhirat (surga atau neraka) sebagai akhir perjalanan hidup manusia maka di tempat ini disebut lagi dengan kehidupan, kembali ruh-ruh manusia akan diberi jasad. Oleh karena itu, benarlah jika proses kematian manusia di dunia ini diistilahkan dengan meninggal dunia sekaligus meninggalkan jasadnya.

Sedangkan, bentuk jasad manusia ketika berada di alam akhirat, wallahu a’lam. Yang jelas, bentuk jasadnya akan berbeda dengan jasad yang ada sekarang ini, sebab dia tidak lagi akan merasakan lapar, dahaga (bila manusia masuk surga).

Jadi, yang dimaksud keimanan kita kepada Allah SWT, yakni tentang hakikat zat Allah, hanyalah sebatas yang kita ketahui dari-Nya. Allah SWT yang kita yakini ialah Allah sebagai Tuhan Rabbul ‘aalamiin (Rabb alam semesta). Sebagaimna firman-Nya: Katakanlah, apakah aku mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu” (QS al-An’aam [6]:164). Bersambung...

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA