Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Rekacipta Kebudayaan Betawi

Selasa 18 Nov 2008 05:42 WIB

Red:

Semiloka Betawi Corner yang diselenggarakan oleh JIC (Jakarta Islamic Centre) pada bulan Maret lalu melahirkan satu agenda penting untuk dilakukan secara serius oleh segenap elemen masyarakat Betawi, terutama ulama dan cendikiawannya, yaitu rekacipta kebudayaan Betawi. Menyaring kembali kebudayaan Betawi yang tidak Islami, mengontrol dan memandu perjalanan kebudayaan Betawi agar selalu sesuai dengan ajaran Islam. Ada beberapa alasan dan pemikiran yang mendasari agenda rekacipta kebudayaan Betawi ini yang diberikan oleh kedua nara sumber di semiloka tersebut, yaitu Prof Dr Yasmine Zaki Shahab dan KH Saifuddin Amsir.

Prof Dr Yasmine Zaki Shahab mendasarinya atas keprihatinan terhadap fenomena mengindentikkan non-Islam dengan Betawi yang akhir-akhir ini muncul. Padahal, menurutnya, Betawi identik dengan Islam, bicara Betawi berarti bicara Islam, bicara kebudayaan Betawi berarti juga bicara tentang kebudayaan Islam. Hal ini bahkan telah dikenali, diakui, amat ditekankan dan ditegaskan oleh para penulis ataupun pengamat Betawi, baik dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. Ahli ilmuilmu sosial, linguistik, pegawai pemerintah, wartawan, dan orang awam tanpa terkecuali, mendukung pendapat ini.

Salah satu fenomena yang dicermatinya adalah fenomena masyarakat Kampung Sawah yang non-Muslim, yang entah siapa sponsor dan aktornya melakukan rekacipta kebudayaan: seolaholah masyarakat Kampung Sawah non-Muslim bagian dari masyarakat Betawi, yang laki-laki berpeci dan berkalungkan sarung, yang perempuan mengggunakan kerudung dalam beribadah dan peringatan. Bahkan setiap perayaan hari besarnya, tampilan seperti itu diliput secara besar-besaran oleh media massa.

Padahal dalam kajian sejarah, masyarakat Kampung Sawah non-Muslim bukanlah masyarakat Betawi dan dahulu dalam beribadah mereka tidak seperti itu. Ironisnya, tidak ada upaya yang signifikan dari masyarakat dan elite Betawi untuk melakukan counter atau perlawanan terhadap rekacipta dan pembentukan opini tersebut.

Sedangkan KH Saifuddin Amsir mendasarinya atas fenomena maraknya kemunculan intelektual muda Betawi yang berpikiran liberal dan nyeleneh akibat derasnya arus masuk pemikiran liberal di kampus-kampus Islam, tempat sebagian besar pemuda Betawi meneruskan pendidikannya setelah madrasah. Pemikiran yang liberal yang nyeleneh seperti ini pernah ada di masa lalu. Tetapi, dapat teratasi dengan baik karena masih banyak ulama Betawi yang mumpuni keilmuannya dan dapat memberikan jawaban-jawaban yang memuaskan kepada para pemuda Betawi yang sedang gandrung dengan pemikiran liberal. Selain pemikiran liberal yang nyeleneh, juga arus kebudayaan pop yang sangat dahsyat melanda generasi muda Betawi sekarang ini. Tidak sedikit yang kemudian larut dalam arus kebudayaan pop tersebut dan menjadi pelakunya.

Sebagai contoh, tampilan lenong di layar kaca yang sekarang ini nyaris tidak ada kandungan nilai-nilai ajaran Islam di dalamnya. Fenomena di atas bisa terjadi karena perhatian dan penguasan ulama Betawi terhadap persoalan kebudayaan secara umum sekarang ini sangat minim. Terlebih menurut Yahya Andi Saputra, yang hadir sebagai peserta semiloka, di beberapa daerah Betawi, terutama di Betawi pinggiran, masih hidup kebudayaan Betawi yang sangat tidak Islami, bahkan masuk kategori musyrik, namun terus dilestarikan. Hal ini jelas menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi ulama Betawi untuk mengislamkannya.

Namun tentu saja ulama Betawi tidak dapat berjalan sendiri, perlu kerja sama, sumbangsaran dan pemikiran dari para cendikiawan yang paham terhadap persoalan Betawi dari segala aspek, dan ini membutuhkan sebuah tempat di mana mereka dapat berkumpul. Oleh peserta semiloka diharapkan agar Betawi Corner, nama bagi tempat berkumpulnya para ulama dan cendikiawan Betawi melakukan kerja-kerja rekacipta kebudayaan Betawi, dapat berada di JIC. Ini dikarenakan JIC adalah satu-satunya pusat pengkajian dan pengembangan Islam yang ada di Jakarta yang sangat concern terhadap persoalan Islam di Betawi.

Penulis : Rakhmad Zailani Kiki, Staf Seksi Pengkajian JIC

REPUBLIKA - Jumat, 25 April 2008 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA