Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Bukti Cinta Cladio Ranieri untuk AS Roma

Kamis 23 May 2019 18:36 WIB

Red: Bayu Hermawan

Claudio Ranieri

Claudio Ranieri

Foto: EPA-EFE/Nigel Roddis
Ranieri mengatakan berani mengambil resiko melatih Roma karena alasan cinta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Claudio Ranieri dipastikan akan meninggalkan AS Roma akhir musim ini. Jelang berpisah dengan Roma, Ranieri mengungkapkan keputusannya menjadi pelatih sementara AS Roma menggantikan Eusebio di Francesco, karena kecintaannya terhadap klub kota kelahirannya itu.

Baca Juga

"Saat saya tiba, mental tim sedang rendah, dan para pemain dalam kondisi kecewa karena tak bisa mewujudkan harapan mereka yang tinggi," katanya kepada AS Roma.com, seperti dikutip dari Football Italia.

"Tidak ada siapapun yang bisa masuk ke dalam tim baru dan melambaikan tongkat sihir (untuk mengubah keadaan). Saya melakukan sedikit demi sedikit, hingga keadaan membaik untuk kami," ujarnya.

"Tim ini punya masa depan yang baik, karena diisi oleh para pemain muda dan bertalenta, sehingga saya yakin mereka akan bisa melakukan yang terbaik," ucapnnya.

Meski kondisi Roma tengah buruk, setelah gagal di Coppa Italia, tersingkir dari Liga Champions, dan tengah berjuang kembali masuk ke zona Champions, namun Ranieri menyanggupi menjadi pelatih sementara il Lupi. Alasannya, karena kecintaannya pada Roma.

"Roma sangat berarti bagi saya. Penggemar mana yang tidak menerima kesempatan untuk mengelola tim yang mereka cintai, bahkan hanya untuk satu pertandingan? Saya mendapat telepon pada waktu yang sulit. Seandainya itu tim lain, saya tidak akan pernah mengatakan ya, saya tidak akan pernah mengambil risiko seperti ini," ujarnya.

"Saya memikirkan semua hal itu, tetapi cinta membawamu melampaui alasan yang dingin dan praktis. Saya setuju untuk mengambil risiko ini," ucapnya.

Ahad (26/5) mendatang, Ranieri akan menjalani pertandingan terakhir bersama Roma melawan Parma. Ia mengatakan, pertandingan itu akan menjadi laga penuh emosional baginya.

"Setiap kali aku berada di ruang ganti Roma, aku menjadi emosional. Saya selalu tiba di lapangan setelah lagu kebangsaan, karena kalau tidak, saya terlalu emosional. Saya ingin tetap tenang dan memiliki pikiran yang jernih," ujarnya.

"Karena ini adalah pertandingan terakhir saya, saya harus berterima kasih kepada presiden klub, yang memberi saya kesempatan untuk membimbing tim yang saya cintai sekali lagi. Saya tidak pernah melepas topi pendukung saya. Saya dan akan selalu menjadi penggemar," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA