Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Wednesday, 14 Zulqaidah 1440 / 17 July 2019

Jatuhkan Sanksi, Komdis Dinilai tak Melihat Banyak Aspek

Rabu 03 Oct 2018 15:02 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Hazliansyah

Pelatih Persib Bandung Mario Gomez (kiri) dan penerjemah/asisten pelatih Persib Fernando Soler (kanan) di Stadion Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (3/10).

Pelatih Persib Bandung Mario Gomez (kiri) dan penerjemah/asisten pelatih Persib Fernando Soler (kanan) di Stadion Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (3/10).

Foto: Republika/Hartifiany Praisra
Gomez membandingkan saat pertandingan Persib kontra Arema

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- Pelatih Persib Bandung Mario Gomez mempertanyakan keadilan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI atas putusan pertandingan Persib kontra Persija di Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Ahad (23/9). Pelatih asal Argentina ini menilai sanksi diambil atas kacamata Komdis dan tidak melihat dari segala aspek.

"Saya ingat saat saat kita bertanding di kandang Arema, orang-orang masuk lapangan, menyerang kita dan ada yang melempar saya dengan batu. Tapi mungkin federasi punya alasan lain," kata Gomez di Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, Rabu (3/10).

Dia menilai, Komdis tidak serius berbenah mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Apalagi, Komdis tidak menurunkan sanksi apapun pada saat penonton turun di lapangan pada laga Persib kontra Arema.

"Kalian tahu, semua tahu dan penggemar harus tahu, situasi ini tidak akan terjadi jika Persija saat itu menang," tegasnya.

Gomez mengaku telah berdiskusi dengan kolega dan pengacaranya. Karena ini adalah pengalaman pertamanya menghadapi sanksi berat pada timnya selama berkecimpung di dunia sepak bola.

"Karena ini (pengeroyokan) murni kriminal. Mereka ingin menggunakan kesempatan ini dan itu tidak baik. Ini tidak bagus buat sepak bola, mereka tidak serius, mereka tidak punya etika," tegasnya.

Dia bercerita bagaimana Komisi Disiplin di negara lain menjalankan pekerjaannya. Dimana sebelum sanksi diputuskan, semua pihak yang berkaitan dimintai keterangan.

"Disini kita tidak bisa melakukan pembelaan. It's crazy, saya tidak paham. Selama 42 tahun di sepak bola saya tidak pernah menemui hal seperti ini. Cuma disini yang Komdis seperti ini," tegasnya.

Dia berharap, ada perubahan dalam tubuh federasi. "Kami ingin kalian berkembang, jika seperti ini kalian tidak bisa berubah," paparnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA