Senin, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 Desember 2019

Senin, 12 Rabiul Akhir 1441 / 09 Desember 2019

BBPOM Sumbar: Zat Berbahaya pada Takjil Berkurang

Selasa 06 Jun 2017 22:55 WIB

Red: Ilham

Petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan DKI Jakarta memeriksa sampel makanan takjil.

Petugas Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan DKI Jakarta memeriksa sampel makanan takjil.

Foto: Republika/Prayogi

REPUBLIKA.CO.ID, PARIT MALINTANG -- Kepala Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) di Padang, Sumatera Barat, Zulkifli menyatakan penggunaan zat berbahaya pada takjil di provinsi itu dari tahun ke tahun berkurang. "Pada Ramadhan tahun ini kita telah memeriksa sejumlah pasar tradisional dan takjil di enam kabupaten dan kota di Sumbar," katanya saat memantau pangan dari bahan berbahaya di Pasar Lubuk Alung, Padangpariaman, Selasa (6/6).

Ia mengatakan, dari pemeriksaan tersebut serta dibandingkan dengan tahun sebelumnya menunjukkan penggunaan zat berbahaya, seperti Rodhamin B atau boraks pada takjil berkurang. "Saya tidak ingat angkanya tapi yang pasti memang terjadi penurunan," kata dia.

Zulkifli mengatakan, penurunan penggunaan zat berbahaya itu karena pada tahun sebelumnya pihaknya langsung menemui orang yang memproduksi takjil serta pedagang yang menjual zat tersebut. "Dan saat itu kita langsung mensosialisasikan agar mereka tidak menggunakan dan menjual zat berbahaya tersebut," ujarnya.

Selain itu, kata dia, pemerintah setempat seperti di Padang juga mengambil peran dengan menyosialisasikan pangan yang aman sebelum pedagang takjil berjualan. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah kabupaten dan kota di provinsi itu melakukan hal yang sama guna melindungi masyarakat dari bahan berbahaya.

Takjil yang ditemukan mengandung zat berbahaya diproduksi penjual yang berbeda dari tahun sebelumnya. "Penemuan zat pewarna tekstil pada cendol masih ada," ungkapnya.

Ia mengatakan, saat ini pihaknya tengah mendalami pewarna merek Jelita cap Angsa karena sering menemukan hasil pemeriksaan yang berubah-ubah. Zulkifli menjelaskan, terkadang pewarna merek tersebut ditemukan di suatu daerah positif mengandung zat berbahaya, namun daerah lain negatif atau aman untuk dikonsumsi.

Oleh karena itu, ia mengimbau warga di daerah itu untuk tidak terpengaruh terhadap takjil yang berwarna mencolok karena biasanya pada ciri-ciri tersebut terindikasi zat berbahaya.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA