Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Friday, 16 Zulqaidah 1440 / 19 July 2019

Ketum PSSI: Marquee Player Bukan Tenaga Kerja Asing Ilegal

Rabu 19 Apr 2017 17:40 WIB

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Andri Saubani

Pesepak bola Persib Michael Essien (kanan) bersama driver Go-Jek menunjukan kaos tim Persib Baru saat peluncuran Kompetisi GO-JEK Traveloka Liga 1 di Jakarta, Senin (10/4).

Pesepak bola Persib Michael Essien (kanan) bersama driver Go-Jek menunjukan kaos tim Persib Baru saat peluncuran Kompetisi GO-JEK Traveloka Liga 1 di Jakarta, Senin (10/4).

Foto: Antara/M Agung Rajasa

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) mengancam akan membubarkan Liga 1 2017 jika masih ada yang menghambat berjalannya kompetisi nasional. Ketua Umum PSSI, Letnan Jenderal (Letjen) Edy Rahmayadi menegaskan hal tersebut, menyusul persoalan pemain asing yang dinilai ilegal oleh Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI) lantaran bermain di Indonesia tanpa Keterangan Izin Tinggal Terbatas (Kitas) dan Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA).

BOPI mencatat, ada 25 pemain asing yang belum punya Kitas dan IMTA bermain. BOPI menilai, pemain asing tersebut, ilegal yang sebarannya ada di 11 kesebelasan. Dari 25 pemain ilegal tersebut, BOPI membeberkan, termasuk semua pemain bintang atau marquee player, yang jumlahnya sebanyak sembilan nama di delapan klub papan atas Liga 1.

Edy melanjutkan, dirinya tak terima dengan anggapan BOPI yang menilai pemain asing tanpa Kitas dan IMTA tersebut, sebagai pekerja ilegal. Jenderal bintang tiga tersebut menegaskan, para pemain asing tersebut, masuk ke Indonesia dengan persyaratan yang resmi. Meskipun dia mengakui, Kitas dan Imta sebagai syarat bermain, memang belum pungkas.

"Saya minta maaf. Bukan saya mau tutup telinga bagi orang-orang yang membicarakan hal ini. Tapi percayalah, mereka (pemain asing) ke sini untuk bermain bola, bukan ilegal. Mereka terlihat di televisi, di media. Yakinlah mereka tak akan lari. Mau lari lewat mana? Janganlah dibesar-besarkan," sambung dia.

Panglima Komando Strategis Angaktan Darat (Pangkostrad) tersebut, pun menolak permintaan BOPI yang meminta agar PSSI dan LIB, sementara ini, melarang pemain asing yang tak ber-Kitas dan Imta, melanjutkan aksinya di Liga 1. "Jangan salahkan klub. Salahkan saya. Karena saya yang memberikan izin mereka bermain. Dan Ketua Umum BOPI (Noor Aman) membolehkan mereka bermain," terang Edy.

Edy menambahkan, jika larangan tersebut diterapkan, akan mengganggu usaha PSSI menggelar kembali kompetisi sepak bola nasional. Menurut dia, para sponsor dan pemilik hak siar Liga 1, juga mengancam akan menghentikan kerja sama dengan PSSI dan LIB.

Itu jika para pemain asing serta marquee player tanpa Kitas dan IMTA, dilarang tampil. Itu artinya, Edy menegaskan, tak perlu lagi ada kompetisi sepak bola di Indonesia. "Bagaimana? Apa saya harus mengambil keputusan sekarang untuk menghentikan Liga 1 sampai masalah Kitas (dan IMTA) ini selesai," sambung dia.

Namun demikian, Edy menjelaskan, PSSI dan LIB juga para kesebelasan peserta Liga 1, sepakat agar persoalan Kitas dan IMTA tersebut, akan dirampungkan secepatnya. Edy menambahkan, pada Jumat (20/4) mendatang, federasi bersama operator dan seluruh menejemen klub, akan bertemu dengan Ditjen Imigrasi dan Kemenakertrans, untuk meminta toleransi dan percepatan penerbitan Kitas dan IMTA bagi pemain asing tersebut.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA