Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Jerman akan Pukau Masyarakat Eropa di Piala Eropa

Jumat 28 Sep 2018 08:47 WIB

Red: Hazliansyah

Presiden UEFA Aleksander Ceferin mengumumkan Jerman sebagai tuan rumah Piala Eropa 2024, Kamis (27/9).

Presiden UEFA Aleksander Ceferin mengumumkan Jerman sebagai tuan rumah Piala Eropa 2024, Kamis (27/9).

Foto: Martial Trezzini/Keystone via AP
Jerman menjadi tuan rumah Piala Eropa 2024

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jerman terpilih sebagai tuan rumah penyelenggaraan Piala Eropa 2024 mendatang. Presiden Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) Reinhard Rauball kemudian mengenang berbagai ingatan yang masih melekat dari penyelenggaraan Piala Dunia 2006.

Rauball menyebut negaranya masih mengingat betul suasana dan emosi yang tercipta dari Piala Dunia 2006 di Jerman yang dijuarai Italia itu.

"Kami semua masih memiliki rekaman kejadian dan emosi yang ditimbulkan Piala Dunia 2006 di ingatan kami," kata Rauball sebagaimana dilansir Reuters.

Ia meyakini Piala Eropa 2024 bukan hanya akan mempesona masyarakat di negaranya, tetapi juga di Eropa.

"Kami tak sabar untuk satu lagi gelaran penting di negara kami. Piala Eropa 2024 akan mempesona dengan pertunjukan olahraga kami, baik bagi masyarakat Jerman maupun di luar sana," kata Rauball.

Jerman rencananya akan menggelar Piala Eropa 2024 di 10 kota, yakni Berlin, Muenchen, Dortmund, Gelsenkirchen, Stuttgart, Hamburg, Duesseldorf, Koeln, Leipzig dan Frankfurt. Jerman terpilih jadi tuan rumah Piala Eropa 2024 setelah mengalahkan Turki dalam pemungutan suara pamungkas.

Terpilihnya mereka seolah menjadi titik balik bagi sepak bola Jerman yang dalam beberapa bulan terakhir diwarnai kegagalan di Piala Dunia 2018 di Rusia.

Rendahnya penjualan pertandingan timnas di dalam negeri, serta keputusan Mesut Oezil mundur dari timnas berkaitan dengan sejumlah polemik menyangkut rasisme dan diskriminasi atas darah keturunan Turki yang dimilikinya.

Sebaliknya, bagi Turki kegagalan jadi tuan rumah Piala Eropa 2024 kian menambah panjang berita buruk di negara yang tengah dilanda krisis ekonomi tersebut serta sorotan kepada catatan hak asasi manusia di sana selepas percobaan kudeta yang gagal pada 2016 lalu.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA