Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Lalu Zohri, Doa Ayah, dan Latihan tanpa Sepatu

Jumat 13 Juli 2018 08:34 WIB

Red: Elba Damhuri

Pelari Indonesia Lalu Muhammad Zohri melakukan selebrasi seusai menang dalam perlombaan Atletik IAAF World U20 Championships cabang lari 100 meter di Tampere, Finlandia, Kamis (11/7). Lehtikuva/Kalle Parkkinen via REUTERS

Pelari Indonesia Lalu Muhammad Zohri melakukan selebrasi seusai menang dalam perlombaan Atletik IAAF World U20 Championships cabang lari 100 meter di Tampere, Finlandia, Kamis (11/7). Lehtikuva/Kalle Parkkinen via REUTERS

Foto: REUTERS
Zohri tidak ingin menyusahkan kakak-kakaknya dan tetap berusaha semampunya.

REPUBLIKA.CO.ID  Oleh: Muhammad Nursyamsi, Bambang Noroyono

Herman Heri (52 tahun) tidak akan pernah melupakan sosok Lalu Muhammad Zohri (18 tahun). Selain karena bertetangga di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), Herman memiliki kenangan lain.

Ia kerap mendapati Zohri sedang berlatih berlari dari kediaman di sekitar area penyeberangan Bangsal menuju kawasan Tiga Gili. Berbekal perlengkapan seadanya, Zohri tekun berlari menelusuri jalur demi jalur yang jauh dari ideal.

"Latihannya kadang di lapangan. Seringnya di pantai tidak pakai sepatu," kata Herman.

Pernyataan Herman merupakan respons atas pertanyaan Republika ihwal prestasi sensasional Zohri di kancah internasional.

photo

Lalu Muhammad Zohri (paling kiri) saat berlaga di nomor 100 meter putra Kejuaraan Dunia U-20, di Finlandia, Rabu (11/7).

Zohri sukses menjadi manusia tercepat di lintasan lari 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia, Rabu (11/7) waktu setempat. Ia menyelesaikan lomba dengan waktu 10,18 detik, menumbangkan dua pelari junior sekaligus unggulan asal Amerika Serikat (AS), Anthony Schwartz dan Eric Harisson.

Tak ayal, rumah Zohri pun mendadak ramai didatangi warga sekitar ataupun pewarta dari berbagai media. Rumah itu, menurut pantauan Republika, jauh dari layak. Bangunan rumah setara tipe 21 itu hanya ditutupi asbes dan genting yang sudah rapuh.

Dinding rumah bukanlah dari semen, melainkan hanya dari anyaman bambu. Di depan ada dipan untuk duduk bersama. Kemudian, di dalam rumah peralatan tidur dan perlengkapan rumah tangga tampak berserakan.

photo

Rumah Lalu Muhammad Zohri di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, NTB.

Kendati hidup dalam keterbatasan, Zohri tak pernah mengeluh. Menurut Herman, Zohri tetap berusaha keras berlatih agar menjadi pelari andal. "Anaknya biasa-biasa saja, tidak neko-neko," katanya.

Kakak Zohri, Fazilah, menyatakan, sampai sekarang sang jawara masih tinggal di sana. Menurut Fazilah, rumah itu selalu disinggahi apabila Zohri kembali.

"Kami sudah pernah mengajukan bantuan ke kepala desa dulu, tapi nama kami tidak pernah keluar," katanya terkait kondisi rumah peninggalan kedua orang tuanya.

Meskipun masih menempati rumah itu, anak bungsu dari empat bersaudara itu sesekali juga tinggal bersama saudara yang lain. Putra pasangan almarhum Lalu Ahmad Yani dan almarhumah Saeriah itu bercita-cita memperbaiki rumah di kampung halamannya jika telah mencapai kesukesan.

photo

Keluarga Lalu Muhammad Zohri menggelar syukuran atas keberhasilan Zohri menjadi juara dalam ajang Kejuaraan Dunia Atletik U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia.

Zohri, menurut Fazilah, berencana membeli tanah di luar Dusun Karang Pangsor jika sudah mampu. "Kami tidak pernah mengetahui masalah pribadi Lalu. Dia tidak ingin menyusahkan kakak-kakaknya atau keluarganya yang lain. Dia akan berusaha sendiri selama dia mampu," ujar kakak sulung itu.

Sebelum meninggal, ayah Lalu Muhammad Zohri pernah mendoakan agar putranya selalu sukses mencapai cita-citanya. Doa almarhum pun terkabul.

Berkat perjuangan keras, Zohri sukses menjuarai nomor lari 100 meter Kejuaraan Dunia Atletik U-20 di Tampere, Finlandia. "Sangat bangga terhadap apa yang saya dapatkan hari ini. Ini sangat luar biasa bagi saya," kata Zohri.

Sosok Zohri jelas bukan unggulan di nomor final 100 meter. Dalam lintasan atletik, para pelari tercepat di babak kualifikasi hingga semifinal akan ditempatkan di lintasan bagian tengah (nomor 4 dan 5). Namun, secara mengejutkan, Zohri melesat dari lintasan paling tepi (8) sejak start hingga finis.

"Momen bersejarah!" Begitu laman Federasi Atletik Internasional (IAAF) menilai kemenangan Zohri di lintasan atletik di Tampere. Catatan waktu 10,18 detik itu pun memecahkan rekor nasional 10,25 detik yang juga tercatat atas namanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA