Kamis, 6 Zulqaidah 1439 / 19 Juli 2018

Kamis, 6 Zulqaidah 1439 / 19 Juli 2018

BPOM Awasi Keamanan Pangan di Lokasi Kuliner Palembang

Kamis 12 Juli 2018 07:14 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Dwi Murdaningsih

Beragam jenis pempek yang dijual dengan harga murah, satunya hanya Rp1.000. di Jalan Mujahidin, Palembang.

Beragam jenis pempek yang dijual dengan harga murah, satunya hanya Rp1.000. di Jalan Mujahidin, Palembang.

Foto: Republika/Maspril Aries
Penyuluhan keamanan pangan saat Asian Games ini dilakukan kepada 1.166 pelaku usaha.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menjelang perhelatan akbar Asian Games 2018, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Palembang dan BPOM Pusat Republik Indonesia (RI) melakukan penyuluhan keamanan pangan di berbagai lokasi kuliner kota Palembang.

Penyuluhan keamanan pangan saat Asian Games ini dilakukan kepada 1.166 pelaku usaha seperti penjual pempek, jasa boga, restoran saji hingga pedagang kaki lima yang ada di Palembang. Pemeriksaan keamanan pangan terhadap produk yang dijual menggunakan alat test kit formalin, borax, rhodamin B dan methanil yellow.

"Palembang sebagai tuan rumah Asian Games 2018 harus aman dan memiliki makanan yang berkualitas, seperti nutrisi makanan yang ada harus seimbang bukan hanya sekedar membuat," kata Kepala BPOM RI Penny Kusumastuti Lukito melalui pesan tertulis kepada Republika.co.id, Rabu (11/7).

Dian Sastro dan Mikha Tambayong Ikut Torch Relay Asian Games

Penny berharap, pelaku usaha di Palembang memiliki daya saing tinggi dengan cara menyediakan kemasan yang menarik dan produk bermutu. Sehingga produk tersebut dapat di ekspor ke seluruh penjuru dunia, dan bisa meningkatkan pendapatan ekonomi lokal dan ekonomi nasional.

"Kalau makanan di Palembang berkualitas bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat, BPOM membantu produk-produk Palembang bisa berdaya saing, jika belum punya izin edar MD kita akan bantu untuk alur produksinya," jelas dia.

Menurut Penny, untuk makanan di Palembang masih ada yang harus diwaspadai karena ada beberapa temuan produk makanan rumahan yang menggunakan formalin. Seperti tahu dan mie, untuk pempek tidak ada yang memakai formalin tetapi ada potensi.

"Kita akan menyosialisasikan alat pengganti formalin, penggantinya dengan teknologi pendinginan dan palata, tetapi untuk palata sedang proses izin badan pom untuk kelayakan," ungkap dia.

Penny menyebut, saat ini pihaknya sedang melakukan penegakan penataan pengelola formalin agar tidak masuk untuk makanan, karena formalin bukan untuk makanan. Apabila ada pihak yang tertangkap menggunakan formalin untuk akan dipidana dua tahun dan denda empat milliar rupiah.

"Saat ini tempelan stiker pangan aman sudah berfungsi sebagaimana fungsinya, Terutama pada saat Asian Games nanti," kata Penny.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA