Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Mengikatkan Batin Indonesia-Malaysia Lewat Puisi Esai

Sabtu 21 April 2018 12:12 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Denny JA, konsultan politik/pendiri LSI

Denny JA, konsultan politik/pendiri LSI

Foto: Denny JA
10 penyair Indonesia-Malaysia menggelar diskusi bahas puisi esai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak 10 penyair asal Indonesia dan Malaysia menggelar diskusi dan berjumpa dari tanggal 21 hingga tanggal 24 April 2018 di Sabah, Malaysia. Mereka melakukan diskusi menuliskan dinamika hubungan kedua negara, Indonesia-Malaysia dalam sepuluh puisi esai.

 

Dari Indonesia, penyair yang terlibat Dhenok Kristianti, De Kemalawati, Fanny Jonathan Poyk, Isbedy Stiawan ZS, Hari Mulyadi. Penyair dari Malaysia yang ikut program: Datuk Jasni Matlani, Siti Rahmah Ibrahim, Hasyuda Abadi, Abdul Karim Gullam, Jasni Yakub.

 

Program tersebut lahir atas inisiatif Fatin Hamama dan Datuk Jasni Matlani. Ikut serta dalam workshop ini Ahmad Gaus yang memberi panduan soal sejarah lahirnya puisi esai, kekhususan, dan karakternya.

 

Denny JA selaku penggagas puisi esai menyambut baik inisiatif para penyair untuk merekatkan kembali hubungan dua negara melalui puisi esai.

 

Menurut Denny, dalam survei LSI 2015, Malaysia menjadi satu dari tiga negara yang paling dibenci publik Indonesia, di samping Israel dan Cina. Hal itu tak lepas dari pemberitaan emosional media massa soal konflik perebutan pulau, klaim soal kepemilikan budaya dan kisah penyiksaan TKI. Seruan Bung Karno para 1963: Ganyang Malaysia, masih bergema. Tapi, sambung Denny, saatnya ikatan batin dua negara direkatkan kembali.

 

"Oleh karena itu, saya menyambut baik upaya mengikatkan kembali batin Indonesia- Malaysia melalui sastra, khususnya  puisi esai. Ini program yang sekali mendayung, dua pulau terlampaui," ujar Denny dalam siaran pers, Sabtu (21/4). 

 

Ia mengatakan pogram itu memperkaya upaya menjalin hubungan dua negara juga kerja sama dibina di arena budaya. "Hidup tak hanya soal tabel ekonomi, soal dagang atau konflik politik," tutur dia.

 

Ia juga mengaku sudah membaca beberapa draft puisi esai. Ada kisah tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Ada kisah soal klaim budaya Indonesia yang diakui milik Malaysia. Ada pula refleksi hubungan Indonesia Malaysia sejak konfrontasi era Soekarno.

 

Setelah Malaysia, para penyair Singapura Thailand dan Brunei Darussalam juga sedang menjajaki menuliskan isu sosial di negaranya masing masing dalam puisi esai.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Pentas Seniman Bandung Peduli Lombok

Selasa , 14 August 2018, 23:59 WIB