Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Wow, Memeluk Agama Ini Harus Tes HIV/AIDS Dulu

Kamis 02 Jan 2014 00:04 WIB

Red: Julkifli Marbun

Medicine for patients are lined up for distribution at the HIV/AIDS ward of Beijing YouAn Hospital December 1, 2011.

Medicine for patients are lined up for distribution at the HIV/AIDS ward of Beijing YouAn Hospital December 1, 2011.

Foto: Reuters/David Gray

REPUBLIKA, JAKARTA -- Semua tahu, Amerika Serikat sekarang ini merupakan negara adi daya terkemuka di dunia.

Ternyata selain mempunyai kekuatan ekonomi dan persenjataan militer super dahsyat, negara ini juga menjadi tempat kelahiran pergerakan, mazhab maupun agama modern, yang hanya bisa disaingi oleh tanah Arab dan India, tempat lahirnya agama samawi dan ardhi.

Mulai dari pecahan agama Kristen maupun Nation of Islam yang berbau Islam, sampai ke Scientology dan Church of Satan, lahir di negeri Paman Sam ini.

Dari semua itu, yang unik adalah agama Kerista yang mirip dengan Mormonisme.

Agama Kerista didirikan di New York tahun 1956 oleh John Peltz "Bro Jud" Presmont.

Salah satu ciri khas agama ini adalah pengamalan kehidupan polyfidelitas, sebuah bentuk polyamory dimana semua penganutnya diberi kekuatan hukum untuk melakukan hubungan intim dengan sesama pemeluk.

Praktek polyamory, yang menjadi gabungan antara sistem poligami dan poliandri, sebenarnya tidak saja dilakukan oleh pemeluk agama ini tapi juga warga AS lainnya tanpa harus menjadi penganut Kerista.

Untuk menghindari penyebaran penyakit HIV/AIDS, agama ini memberi syarat yang cukup ketat bagi pemeluk baru; mereka terlebih dahulu harus menunggu selama enam bulan dan diwajibkan menjalani tes penyakit kelamin, sexually transmitted diseases (STDs) termasuk tes bebas HIV/AIDS. Oleh agama lain, tes ini biasanya dilakukan saat pernikahan, bukan saat masuk agama.

Seperti halnya pernikahan yang dianggap tabu lainnya, untuk ukuran ketimuran, seperti pernikahan transgender, pelaku polyamory saat ini berjuang agar bentuk pernikahan mereka diakui oleh negara.

“Jika beberapa negara sudah mengakui pernikahan homoseksual, maka kami pun juga akan mendapat restu,” kata Ashara Love, 51 tahun, pelaku polyamory asal Amerika Serikat, dikutip dari ABC News dalam artikel "Polyamory: When One Spouse Isn't Enough" tahun 2009.

sumber : ABC News
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA