Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Tuesday, 12 Zulqaidah 1442 / 22 June 2021

Harapan Terakhir Steve Jobs: Mengenal Anak-anaknya Sebelum Terlambat

Sabtu 08 Oct 2011 22:23 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Steve Jobs bersama istrinya Laurene Powell Jobs

Steve Jobs bersama istrinya Laurene Powell Jobs

Foto: Bloomberg

REPUBLIKA.CO.ID, PALO ALTO, AS - Steve Jobs pun manusia. Ikon teknologi itu menghabiskan hari-hari terakhirnya bersama anggota keluarga terdekat. Namun ia sempat menggunakan ksempatan wawancara terakhir untuk menjelaskan kepada istri dan anak-anaknya mengapa ia tak bisa selalu berada bersama mereka. Semua terungkap kemarin.

Penulis biografi pembesut Apple tersebut, Walter Isaacson, mengatakan ketika ia mengunjungi Jobs beberapa pekan lalu, ia menemukan Jobs dalam kondisi meringkuk kesakitan di kamarnya yang terletak di lantai satu. Pasalnya, ia tak mampu lagi naik tangga.

Meski demikian, secara mengejutkan, tutur Walter, ia tetap ceria. "Pikirannya masih tajam dan humor-humornya masih segar," kenang Walter. Jobs lalu menuturkan mengapa, terlepas dari ketenarannya secara personal, ia akhirnya memutuskan bekerjasama dengan seorang penulis biografi.

"Aku ingin anak-anaku mengenalku," ungkap Walter mengenang ucapan Jobs, dalam sebuah tulisan penghormatan untuk majalah Time. "Saya tidak selalu ada di sana untuk mereka dan saya ingin mereka tahu mengapa dan memahami apa yang saya lakukan."

Jobs, 56 tahun, meninggalkan seorang istri, Laurene Powell Jobs dan tiga orang anak, Eve, Erin dan Reed. Ia juga memiliki dua saudara perempuan yang masih hidup, Patti Jobs dan Mona Simpson. Ia memiliki satu anak perempuan berusia 33 tahun, Lisa Brennan-Jobs, di mana sang ibu adalah mantan pacarnya saat di SMA, Chris-Ann Brennan.

Teman-temannya mengatakan ia menghabiskan beberapa minggu terakhir di rumahnya, Palo Alto, California dengan keluarga, yang kini bakal menyaksikan pembagian warisannya senilai 6,5 milyar dolar. Meski banyak pengunjung potensial ditolak, ia memiliki waktu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman dekatnya.

Salah satu acara keluarnya yang terakhir adalah makan malam di restoran sushi favoritnya Jin Sho, bersama Deam Omish, seorang dokter dan teman baik. "Ia sadar bahwa waktunya di dunia terbatas. Ia ingin mengendalikan apa yang ia lakukan dengan pilihan tersisa," ujar Omish kepada New York Times.

"Ia sangat manusiawi. Ia sangatlah manusia di mana hampir sebagian besar orang tak menyadarinya. Itulah yang membuat ia luar biasa," imbuhnya. "Steve membuat pilihan-pilihan. Saya bertanya padanya apakah ia bahagia memiliki anak dan ia berkata, "Itu 10 ribu kali lebih baik ketimbang apa pun yang telah saya lakukan."

Namun pengakuan tersebut, dulu tak berbunyi seperti itu. Pada awal-awal karirnya, Jobs, yang diadopsi, menyangkal sebagai ayah dari Lisa dan bersikeras di dokumen pengadilan bahwa ia 'steril dan tak subur'. Ia akhirnya mengakuinya sebagai anak ketika putrinya berusia enam tahun dan kemudian mereka berekonsiliasi.

Jobs meninggal akibat kanker pankreas yang dideritanya. Dalam beberapa bulan terkini ia memulai pengobatan baru dan berkata pada temannya ada kemungkinan harapan. Namun adiknya, Mona Simpson, mengatakan ia akhirnya menyerah pada takdir. "Suaranya begitu lembut dan penuh permintaan maaf. Ia merasa sangat sedih bahwa akan meninggalkan kami."


sumber : The Independent
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA