Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Wednesday, 4 Jumadil Akhir 1441 / 29 January 2020

Sosialisasikan Budaya Melalui Komunikasi

Senin 11 Jun 2012 00:34 WIB

Rep: Rachmita Virdani/ Red: Dewi Mardiani

Tari Merak dari Jawa Barat yang dibawakan oleh masyarakat Indonesia di Kochi, Jepang.

Tari Merak dari Jawa Barat yang dibawakan oleh masyarakat Indonesia di Kochi, Jepang.

Foto: Wahyudi S. Pono

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -— Budaya, mungkin identik dengan seluruh kegiatan yang berbau tradisional. Seperti tarian tradisional, pakaian tradisional dan sebagainya. Namun pendapat itu dipatahkan oleh Duta Bahasa Jawa Barat, Lestari Putri dan Annastasya Maryana.

Dalam acara seminar Role of Creativity and Art in Cultural Understanding di Simpul Space, akhir pekan lalu, mereka menjelaskan bahwa budaya adalah sesuatu yang berhubungan dengan intelektual manusia, suatu cara hidup yang dikembangkan dan diwariskan pada sekelompok orang.

“Secara istilah budaya memiliki dua makna. Pertama kemampuan manusia berevolusi untuk mengklasifikasikan dan merepresentasikan pengalaman dengan simbol, dan bertindak secara imajinatif dan kreatif. Kedua adalah perbedaan cara orang hidup di berbagai belahan dunia diklasifikasikan dan mewakili pengalaman mereka, dan bertindak secara kreatif,” jelas Lestari.

Annastya juga mengungkapkan bahwa budaya merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat dan tidak berbentuk. Termasuk di dalamnya tingkah laku manusia. “Perwujudan dari tingkah laku tersebut dapat di realisasikan dalam duni nyata berbentuk budaya dan seni,” ungkapnya.

Seni dan budaya, lanjut Annastasya, merupakan bahasa universal yang dapat dimengerti oleh seluruh orang di belahan dunia. “Kita hidup dengan berbagai karakter budaya, maka dari itu perlu komunikasi untuk memahami seni dan budaya yang dianut dalam diri sesorang,” ujarnya.

Senada dengan Duta Bahasa Jawa Barat, Luthfi Adam, Wakil Ketua Sanggar Motekar Bandung, mengungkapkan bahwa dialog itu penting dalam memahami perbedaan kutur dan budaya antar Negara. “Misalnya orang akan lebih paham sebuah pertunjukkan tidak hanya dengan melihat pertunjukkan tersebut, tapi juga melalui penjelasaan bagaimana pertunjukkan itu berkerja,” terangnya.

Perbedaan kultur dan budaya di tiap Negara pun harus dihargai. “Seperti orang batak yang berusaha berkata lembut untuk menghadapi orang jawa yang memiliki tutur kata halus. Jangan malah ditertawakan," tuturnya.

Acara seminar yang merupakan opening rangkaian Cultural Summit AISEC Local Comitee Bandung dihadiri oleh peserta pertukaran budaya dari delapan Negara. Negara tersebut diantaranya Jepang, Ukraina, Thailand, Perancis, Rusia, Republik Ceko, Taiwan, dan Vietnam.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA