Thursday, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Thursday, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

‘Revitalisasi Tari’

Ahad 08 Jun 2014 15:09 WIB

Rep: Lilis Sri Handayani/ Red: Agung Sasongko

Keraton Kanoman

Keraton Kanoman

Foto: Republika/Agung Supriyanto

REPUBLIKA.CO.ID,

Oleh Ratu Raja Arimbi Nurtina

Adik Sultan Kanoman Raja Muhammad Emirudin

Peralihan kekuasaan keraton dari pusat pemerintahan menjadi pusat budaya, tentunya menimbulkan berbagai perubahan. Namun keraton sebagai pusat budaya, tentunya tidak akan membiarkan kebudayaannya hilang. Salah satunya bidang seni.

 

Walau ada beberapa seni yang punah, namun pada era kepemimpinan Sultan Raja Muhammad Emirudin, mulai dilestarikan kembali. Salah satunya dengan melaksanakan agenda revitalisasi tari.

Keraton Kanoman memiliki beberapa tarian klasik, yang menurut kisah sepuh, diciptakan pada masa Sultan Dzulkarnaen, sekitar tahun 1873-an. Tari-tarian itu di antaranya tari Bedaya Kajongan, Bedaya Rimbe, Golekan, Panglima, Perang Keris dan Gododan.

Namun, tari-tarian itu hampir 40 - 80 tahun belum pernah ditampilkan lagi. Bahkan, maestronya pun sudah almarhum/almarhumah. Atas arahan Sultan Raja Muhammad Emirudin, kami berusaha mencari penerus dan beberapa catatan serta kisah mengenai tari-tarian tersebut.

 

Pada 2010 lalu, Keraton Kanoman bisa mengembalikan tari Bedaya Kajongan, yang mengisahkan tentang perang batin melawan hawa nafsu. Sedangkan pada 2006 lalu, kami juga bisa menampilkan tari Bedaya Rimbe.

 

Keraton Kanoman pun terus berusaha mengembalikan kejayaan tarian klasik. Selama ini, penyebab punahnya tari klasik adalah akibat kurangnya panggung atau jadwal pentas, sehingga para penarinya banyak yang beralih profesi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Karena itulah, Keraton Kanoman saat ini menggalakkan penerus dari mulai usia dini (anak sekolah dasar) dan berupaya untuk mewujudkan harapan para seniman guna memiliki panggung dan jadwal pentas.

Tak hanya revitalisasi tari, Keraton Kanoman juga berupaya mengenalkan tarian-tarian itu kepada masyarakat luas. Di antaranya melalui pagelaran seni budaya, baik di dalam keraton maupun di luar keraton.

Selain revitalisasi tari, Keraton Kanoman juga terus mempertahankan ritual yang sudah berlangsung turun temurun. Ritual itu adalah 1 Sura, yakni pembacaan babad (kisah perjalanan pembentukan Cerbon), 10 Sura, yakni bubur sura (peringatan Nabi Nuh dan peristiwa-peristiwa besar di bulan Sura) dan 25 Safar, yakni memayu, ngapem, tawurji (beberapa agenda).

 

Selain itu, 11 Mulud, yakni pelal Maulid Nabi (beberapa agenda), 25 Rajab, yakni Rajaban/Isra Miraj, 15 Rowah, yakni rowahan/Nisfhu Syaban, 27 Puasa, yakni Pitulikuran, Maleman (beberapa agenda), 1 Syawal, yakni Pisowanan, 8 Syawal, yakni Grebeg Syawal, Kapit, yakni Nadran, serta 10 Rayagung, yakni Grebeg Agung dan Kurban.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES

In Picture: Festival Panen Kopi Gayo

Rabu , 21 Nov 2018, 20:55 WIB