Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

NTRL: Majukan Bangsa Ketimbang Ribut Film G30S/PKI

Ahad 01 Oct 2017 12:23 WIB

Rep: Fakhtar Khoiron Lubis/Sadly Rachman/ Red: Yudha Manggala P Putra

Trio NTRL

Trio NTRL

Foto: Fakhtar Khairon Lubis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film G30S/PKI, dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober belakangan hangat dibicarakan masyarakat Indonesia. Setelah sejak reformasi 1998 tidak lagi dijadikan jadi tayangan wajib (khususnya para siswa) di malam 30 September tiap tahunnya, film ini kembali menjadi bahasan setelah keluar anjuran untuk diputar kembali.

Banyak pakar, akademisi, dan masyarakat yang menganggap film itu kental unsur propaganda pemerintahan Orde Baru, namun tidak sedikit juga yang menilai film itu sebagai pengingat akan dampak negatif komunisme di Tanah Air. Nah, bagaimana dari sudut pandang musisi?

Salah satu musisi yang kami tanyakan soal itu adalah personel ntrl">band NTRL, yang terdiri dari Bagus (vokal-bass), Coki (gitar), dan Eno (drum). Pemilik lagu anthem 'Garuda di Dadaku' ternyata punya pandangan sendiri soal film G30S/PKI.

Coki dan Eno, misalnya, mengaku sebagai salah dua yang merasakan wajib nonton film tersebut saat masih di bangku sekolah dasar (SD). Coki sendiri tidak menampik merasa kalau muatan di film tersebut seperti ditanam ke dirinya pada masa pemerintahan orde baru. Ia baru berhenti menonton film itu ketika SMP sudah tidak lagi diwajibkan menontonnya.

Coki menyayangkan kalau saat ini film G30S/PKI menjadi polemik. Padahal bangsa ini menurutnya lebih baik memikirkan bagaimana memajukan ekonomi dan masyarakatnya daripada meributkan hal seperti ini.

"Kalau gue lebih baik mikirin ekonomi daripada berantem mikirin film G30S/PKI, kaya orang lain aja udah sampai ke Mars sampai bulan, kita di sini aja terus, meningan mikirin bangsa ini untuk maju," ujar dia saat berbincang dengan tim Republikustik, Jumat (22/9) lalu.

Gitaris bernama lengkap Christopher Bollemeyer ini berharap masyarakat jangan sampai terpancing meributkan film G30S/PKI dan akhirnya malah seperti diadu domba. "Mening kita maju bareng-bareng. Kita musisi deh, cara pandangnya begitu, jangan dipaksa orang-orang mengikuti orang yang mau kuasa, kita makan aja susah," ujar dia.

Saksikan video wawancana NTRL dengan tim Republikustik di sini

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA