Selasa, 5 Rabiul Awwal 1440 / 13 November 2018

Selasa, 5 Rabiul Awwal 1440 / 13 November 2018

'Inerie-Mama Cantik', Dokumenter-Drama Soal Tingkat Kematian Ibu dan Bayi

Jumat 27 Jun 2014 13:51 WIB

Red: Hazliansyah

(ki-ka): Mariam Supraba (Pemeran Bella), Chairun Nissa (Sutradara), Lola Amaria (Produser), John Leigh (Direktur Unit Kesehatan Luar Negeri dan Perdagangan Australia) saat peluncuran film Inerie-Mama Cantik

(ki-ka): Mariam Supraba (Pemeran Bella), Chairun Nissa (Sutradara), Lola Amaria (Produser), John Leigh (Direktur Unit Kesehatan Luar Negeri dan Perdagangan Australia) saat peluncuran film Inerie-Mama Cantik

Foto: ist/dsp

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lola Amaria bekerja sama dengan pemerintah Australia memproduksi film drama-dokumentasi berjudul "Inerie-Mama Cantik". Film yang mengambil lokasi syuting di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur ini dibuat sebagai sarana pendidikan dan penyuluhan tentang persalinan aman dan sehat.

"Semoga pesan yang ada di film ini bisa tersampaikan dan yang penting bisa menekan angka kematian ibu dan bayi yang tinggi," ujar Lola Amaria saat peluncuran film tersebut, beberapa waktu lalu.

"Inerie-Mama Cantik" bercerita tentang sepasang saudara kembar, Bello dan Bella yang berasal dari desa Tololela, Bajawa, Pulau Flores. Berbeda dengan Bella, Bello memilih merantau ke daerah jawa untuk bekerja.

Ketika pulang ke kampung halamannya, Bello mendapati saudari kembarnya tengah hamil. Ia kemudian berusaha memberi pemahaman kepada Bella dan penduduk kampung untuk menjalani kehamilan dan persalinan yang sehat dengan rajin memeriksakan ke puskesmas.

Hal itu mendapat tentangan karena di kampung tersebut, sudah menjadi tradisi kalau setiap perempuan yang hamil harus melahirkan di kampung halaman mereka sendiri.

John Leigh, Direktur Unit Kesehatan Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia mengatakan, setidaknya ada tiga masalah yang membuat angka kematian ibu dan anak tinggi di daerah tersebut.

Pertama adanya budaya atau kultur yang tidak mendukung, sehingga menjadi hambatan untuk menerima hal-hal baru dari luar. Kedua akses dan transportasi yang terbatas. Dan yang ketiga fasilitas kesehatan masih banyak yang belum memenuhi standar.

"Untuk itulah kami dalam kurun waktu beberapa tahun belakangan bekerja sama dengan provinsi NTT support untuk ketiga hal tersebut," kata John.

Hasilnya, kata dia, melalui program kemitraan Australia-Indonesia untuk Kesehatan Inu dan Bayi (AIPMNH) itu, telah berhasil menekan angka kematian ibu dan anak hingga 30 persen.

"Kabupaten Ngada, di mana film tersebut dibuat, merupakan bagian dari kisah keberhasilan (program) ini. Kami berharap ke depan angka kematian ibu dan anak dapat terus ditekan," kata dia.

Film yang disutradarai Chairun Nissa ini akan ditayangkan di 10 Kabupaten di Nusa Tenggara Timur dan disiarkan di stasiun TV setempat.

"Tujuan film ini untuk meningkatkan awareness. Dengan hal ini semoga kesadaran masyarakat bisa meningkat, bukan secara negatif tapi positif," kata John.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA