Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Rabu, 8 Safar 1440 / 17 Oktober 2018

Menunggu Pagi Tantang Emosi Mario Lawalata

Selasa 09 Okt 2018 07:08 WIB

Rep: MGROL 106/ Red: Indira Rezkisari

Mario Lawalata.

Mario Lawalata.

Foto: MGROL 106
Mendalami peran sebagai penjual narkoba tidak mudah bagi Mario.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Film Menunggu Pagi sebentar lagi akan tayang pada 11 Oktober 2018. Dalam film ini, Mario Lawalata akan memerankan karakter seorang DJ yang terjerat masalah dengan seorang bandar narkoba.

Ditemui dalam gala premiere Menunggu Pagi di CGV Pacific Place, Jakarta, Mario mengatakan proses pendalamannya mengenai peran menjadi seorang penjual narkoba sangatlah sulit. Di satu sisi, dia harus mengontrol emosi antara marah dan takut ketika sedang beradegan dengan Yayu Unru yang memerankan seorang bandar narkoba. Tapi di sisi lain, dia harus mengontrol emosi antara menjadi kekasih yang sangat sayang tetapi juga dingin terhadap pacarnya.

“Emosi saya sangat tertantang di sini. Tidak boleh meledak-ledak. (Untuk emosi dalam adegan dengan Aurelie Moremans) Tidak boleh terlalu manis, tetapi juga harus ada acuh tak acuh. Belum lagi emosi ketika karakter yang diperankan harus takut kepada bos,” jelas Mario, Senin (8/10) malam.

Mengenai perannya sebagai penjual narkoba, dia mengatakan awalnya tidak tahu apa yang harus diperbuat. Peran tersebut memang berat, namun Mario mengatakan dia tetap berusaha untuk tampil sebagai pemakai sekaligus penjual narkoba.

Sementara untuk pendalamannya, dia mengatakan banyak mendapatkan referensi akting dari banyak film dan video-video di YouTube. “Tapi saya juga dapat acting coach, ada Mas Teddy juga yang selalu kasih tau dia ingin karakter saya seperti apa. Karena setiap penjual narkoba itu berbeda-beda (dalam gaya pendekatan dan penjualan terhadap calon pembeli),” kata Mario.

Setiap dialog yang diucapkan oleh karakter yang diperankan oleh Mario harus memiliki emosi yang berbeda. Hal itulah yang membuat Mario cukup kesulitan. Antara mengimbangi emosinya ketika tidak hanya beradu akting dengan Yayu dan Aurelie, tetapi juga ketika dihadapkan dengan karakter yang diperankan oleh Bio One, seorang anak muda yang hampir menyulut emosi karakter Mario.

Dalam pengambilan gambar, Mario mengaku seluruh adegannya diambil sekali tangkap. Hal tersebut merupakan hal yang sangat mudah dilakukan oleh Mario. Tidak hanya karena dia telah memahami karakternya selama proses pembacaan naskah, tetapi juga karena inisiatif Aurelie dalam membantu Mario menyelesaikan adegannya.

Mengenai film Menunggu Pagi, Mario mengatakan bahwa film tersebut memang film tentang pesta. Tetapi menurutnya, film ini juga menegaskan pada masyarakat agar mereka tidak menutup mata pada hal-hal yang mungkin dilakukan oleh sebagian anak muda millennial.

“Film ini dikemas dengan sangat bagus. Tidak hanya memperlihatkan kalau mungkin ada beberapa anak muda yang kerjaannya pesta, mabuk, dan narkoba, tetapi juga akibat dari hal-hal yang mereka lakukan tersebut,” kata Mario.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA