Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Sabtu, 9 Syawwal 1439 / 23 Juni 2018

Garin Nugroho Ingin Buat Drama Musikal di Ambon

Sabtu 24 Februari 2018 03:51 WIB

Red: Yudha Manggala P Putra

Garin Nugroho

Garin Nugroho

Foto: Agung Supriyanto/Republika
Garin menilai terlalu banyak bakat dan potensi anak-anak di Ambon.

REPUBLIKA.CO.ID,  AMBON -- Sutradara Garin Nugroho mengaku berkeinginan membuat pertunjukan drama musikal yang melibatkan anak-anak di Kota Ambon. Pertunjukan ini diharap bisa menyalurkan bakat dan potensi mereka.

"Saya ingin bikin drama musikal anak di Ambon, karena terlalu banyak bakat dan potensi di sini," katanya di Ambon, Jumat (23/2).

Garin Nugroho berada di Ambon untuk menjadi juri grand final kontes Putra Putri The Natsepa (PPTN) pada 24 Februari 2018. Ini adalah kali keempat ia berkujung ke Maluku.

Ia pertama kali datang ke Maluku pada 1997 untuk riset pembuatan iklan salah satu produk rokok dan pertunjukan, sedangkan kali ketiga Garin ke Ambon untuk menjadi pembicara di peringatan Hari Pers Nasional 2017.

Kendati mengaku ingin sekali menggelar drama musikal anak-anak di Ambon, Garin belum pasti kapan bisa melakukannya karena tengah disibukan dengan penayangan film Setan Jawa dan Nyai di luar negeri.

"Semuanya kan sudah, tapi saya belum pernah bikin adalah film tentang Maluku. Saya pikir drama musikal sesuai karena seni suara adalah kultur orang Maluku," ucapnya.

Lebih lanjut Garin mengatakan bidang tarik suara bukanlah hal baru bagi Maluku, melainkan sudah menjadi bagian dari budaya, karena itu sudah saatnya daerah tersebut membangun sekolah seni yang berfokus pada seni suara.

Membangun sekolah seni suara adalah satu langkah maju untuk mendorong lebih berkembangnya industri jasa di Maluku, khususnya di bidang hiburan yang akan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat.

Karena dunia seni suara juga dapat menjadi strategi budaya yang dapat mendatangkan keuntungan, salah satunya adalah dengan mengkolaborasikan industri tourism dengan musik.

"Seni suara perlu ruang untuk bertumbuh dan pasti dibutuhkan, tapi kenapa itu tidak menjadi sesuatu hal yang serius dilakukan. Di sini potensi alamnya ada dan dikembangkan, tapi potensi vokal tidak benar-benar digarap sebagai strategi budaya," katanya.

Sumber : Antara
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES