Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Rabu, 12 Rabiul Akhir 1440 / 19 Desember 2018

Pemerintah Libanon Larang Pemutaran Film The Post

Rabu 17 Jan 2018 07:05 WIB

Rep: Christiyaningsih/ Red: Esthi Maharani

Steven Spielberg

Steven Spielberg

Foto: bestpictureblog.com

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT -- Pemerintah Libanon awal pekan ini menginstruksikan larangan pemutaran film The Post di negaranya. Larangan ini dikeluarkan lantaran sang sutradara Steven Spielberg punya keterkaitan dengan Israel. Sebagaimana diketahui, Libanon dan Israel merupakan dua negara yang masih bersitegang hingga hari ini.

Permintaan pemblokiran itu muncul di tengah situasi Libanon yang dikenal sebagai negara yang paling bebas di wilayah Timur Tengah. Komite sensor di Direktorat Keamanan Umum memutuskan untuk melarang pemutaran film The Post yang dijadwalkan berlangsung pada 18 Januari mendatang.

Dilansir dari Washington Post, Jenderal Nabil Hanoun selaku juru bicara direktorat mengumumkan pencekalan film itu pada Senin (15/1) lalu. Menurut Hanoun, keputusan ini adalah tindak lanjut dari rekomendasi Libanon untuk memboikot Israel dari Liga Arab.

Steven Spielberg yang merupakan seorang Yahudi diketahui pernah mengucurkan dana satu juta dolar AS kepada Israel. Donasi tersebut diberikan pada tahun 2006 untuk membantu Israel yang saat itu sedang berperang melawan Hizbullah.

Akan tetapi, sebelum The Post tidak ada film-film Spielberg yang dicekal di Libanon. Kendati namanya harus dihilangkan dari poster promosi The Adventurers of Tintin,  film Spielberg bebas diputar tanpa masalah yang berarti.

Kebijakan larangan The Post ini menuai kritik dari sejumlah advokat di Libanon. Menurut seorang aktivis bernama Gino Raidy, keputusan itu merupakan ironi karena The Post adalah film yang berkisah tentang kebebasan pers.

Ini bukan pertama kalinya Libanon melarang pemutaran film yang punya keterkaitan dengan Israel. Film Jungle yang dibintangi Daniel Radcliffe juga dicekal pada Desember tahun lalu. Kisah petualang di hutan Bolivia tersebut masuk daftar cekal karena penulis bukunya adalah Yossi Ghinsberg yang merupakan warga Israel.

Nasib serupa juga terjadi pada film Wonder Woman. Film yang menampilkan Gal Gadot sebagai bintang utama itu dilarang diputar di Libanon karena Gal Gadot adalah orang Israel dan pernah menjadi pelatih tentara Israel.

Dalam kurun waktu antara tahun 1978 hingga 2000, Israel menduduki wilayah selatan Libanon. Pada 2006, Israel berperang melawan Hisbullah setelah dua tentara Israel diculik. Lebih dari 1.000 warga negara Libanon dan 43 warga Israel meninggal dalam perseteruan itu.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES