Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

GP Ansor Nobar Film Soegija

Jumat 08 Jun 2012 10:49 WIB

Red: Djibril Muhammad

Sutradara Garin Nugroho berdiri di depan poster film

Sutradara Garin Nugroho berdiri di depan poster film "Soegija".

REPUBLIKA.CO.ID, MANADO - Gerakan Pemuda (GP) Ansor Sulawesi Utara menggelar 'nonton bareng' atau nobar film Soegija pada pemutaran hari pertama film tersebut di Bioskop 21 Cineplex Manado Town Square, Kamis (7/6).

Nonton bareng tersebut dihadiri antara lain Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Sinyo Sarundajang, Wakil Gubernur Sulut Djouhary Kansil, tokoh-tokoh agama, organisasi pemuda maupun kemahasiswaan di daerah itu. Gubernur Sulut, Sinyo Sarundajang mengatakan, film ini mengandung pelajaran-pelajaran yang sangat berharga.

"Film ini antara lain mengangkat mengenai hal humanis, kemanusiaan yang sangat mendalam. Film ini mengangkat kehiduan beragam di Indonesia," katanya.

Dia menambahkan, paham kebangsaan sangat kental dalam film tersebut. Wakil Gubernur Sulut, Djouhary Kansil mengatakan, film ini sangat bermanfaat, apalagi untuk generasi sekarang ini.

"Film ini menggambarkan perjuangan dari seorang imam untuk negara ini dalam memperoleh dan mempertahankan kemerdekaan bangsa sekaligus dalam tugas kemanusiaan," katanya.

Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Sulut, Benny Rhamdany mengatakan, Romo Soegija bukan hanya tokoh umat Katolik tetapi juga sebagai pejuang nasional.

"Melalui film ini kita banyak belajar tentang nlai-nilai pluralisme, kebangsaan, humanisme dan multikultural," kata Rhamdani.

Benny Rhamdani mengatakan, berbicara nilai universal, maka siapapun harus belajar menembus batas dengan tidak melihat dia itu siapa, dilahirkan dimana, apa suku yang disandang dan agama yang dianut. "Ansor wajib belajar pada Romo Soegija yang berkaitan dengan nilai-nilai universal," katanya.

Rhamdani menambahkan, yang paling penting adalah Romo Soegija layak mendapatkan tempat terhormat dalam hal sejarah pergerakan nasional dalam sejarah kemerdekaaan Indonesia.

"Karena sejarah bukan milik kekuasaan dan mayoritas kelompok masyarket tertentu. Sejarah milik siapapun bagi rakyat Indonesia," katanya.

Dalam acara nonton bareng tersebut, GP Anshor membagikan sekitar 290 tiket secara gratis, kepada antara lain, pimpinan organisasi kepemudaan, organisasi keagamaan, badan eksekutif mahasiswa sejumlah peguruan tinggi di daerah itu, dan badan kerjasama antar umat beragama.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA