Wednesday, 8 Safar 1440 / 17 October 2018

Wednesday, 8 Safar 1440 / 17 October 2018

Ruma Maida, Pijakan Pengingat Sejarah

Sabtu 24 Oct 2009 00:37 WIB

Red:

JAKARTA--''Jangan sekali-kali melupakan sejarah!'' Rangkaian kata yang lebih dikenal sebagai Jas Merah tersebut menjadi kalimat yang begitu melegenda dari sosok Soekarno. Kalimat itu dicetuskan ketika Putra Sang Fajar dilengserkan dari tampuk kekuasaannya sebagai presiden RI pertama.

Kini, setelah lebih dari lima dekade waktu bergulir, Teddy Soeriaatmadja terusik dengan kalimat yang pernah disampaikan Soekarno. Bersama dengan Ayu Utami yang menulis naskah skenario, Teddy menjadikan pijakan semangat untuk tidak melupakan sejarah tadi lewat sebuah film yang diberinya judul "Ruma Maida".

Film drama-fiksi ini dikemas dengan latar belakang sejarah bangsa. Di film ini dihadirkan rentetan sejarah penting yang pernah mewarnai bingkai kehidupan negeri ini. Ada Sumpah Pemuda, masa kependudukan Jepang, proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, hingga huru-hara Mei 1998. Untuk melengkapi kepingan sejarah tadi, Teddy menyisipkan pula tokoh-tokoh penting dari zaman pra-kemerdekaan semacam Soekarno, Hatta, Syahrir, WR Supratman, maupun Laksamana Maeda.

Semua potongan sejarah plus sosok yang telah tiada itu kemudian dihadirkan oleh Teddy lewat alur bercerita flashback. Terkadang, ia membawa penontonnya untuk melompat ke masa lampau. Namun di bagian lainnya, sutradara kelahiran Jepang 34 tahun silam ini mencoba mengorelasikan potongan-potongan sejarah masa lampau tadi kepada cerita masa kini.

Gaya bercerita semacam ini bukanlah hal baru buat Teddy. Setidaknya, teknik bercerita semacam ini pernah diadaptasikannya ke dalam film "Ruang" yang kemudian membawanya sebagai nominator Sutradara Terbaik Festival Film Indonesia 2006 serta menobatkannya sebagai Best Directordari ajang Biffest (4th Bali International film Indonesia) 2006.

Dalam film "Ruma Maida" ini, Teddy memboyong Atiqah Hasiholan sebagai pemeran utama. Putri dari Ratna Sarumpaet ini memerankan tokoh Maida Manurung. Tokoh yang diceritakan sebagai mahasiswi idealis dengan membaktikan masa lajangnya sebagai pengajar anak-anak jalanan ini merupakan representasi nyata dari sosok aktifis pendidik Butet Manurung. Butet Manurung adalah pendidik Sokola Rimba untuk suku anak dalam yang pernah dijadikan ikon untuk materi iklan televisi sebuah koran nasional.

Selain Atiqah, ada juga Yama Carlos yang berperan sebagai arsitek muda bernama Sakera Motaba, Wulan Guritno, Nino Fernandez, Davina Veronica, Frans Tumbuan, serta Imam Nurbuwono yang wajahnya disulap semirip mungkin seperti Soekarno.

Perjuangan Maida

Cerita film ini bermuara pada perjuangan Maida yang ingin mempertahankan rumah tua tempatnya mendidik anak-anak jalanan di ibukota. Maida digambarkan sebagai sosok gadis kikuk yang idealis.

Setelah tiga tahun menjalankan aktifitas mengajar, rumah tua tempatnya berakfitas itu tiba-tiba saja ingin dirobohkan oleh seorang konglomerat bernama Dasaad Muchlisin (Frans Tumbuan). Dasaad ingin mengubah bangunan bersejarah itu menjadi sebuah bangunan minimalis-modernis lewat jasa arsitektur muda bernama Sakera (Yama Carlos).

Dari sinilah konflik film dibangun. Bangunan tua yang ingin dirubuhkan itu ternyata menyimpan banyak cerita di masa lampau. Alur cerita kemudian melompat maju-mundur. Untuk membedakan setiap babakan kisah, Teddy begitu apik menggarapnya lewat teknik pembedaan warna gambar di setiap scene.

Untuk kisah-kisah di masa lampau, Teddy menghadirkan dengan pewarnaan sephia yang terlihat begitu lembut. Sedangkan saat cerita melompat ke masa kini, warna film dibuatnya lebih natural namun tetap mengedepankan unsur artistik yang membuat nyaman di mata.

Dari lompatan-lompatan cerita tersebut, kemudian didapat sebuah benang merah. Dasaad yang tadinya begitu menafikan pentingnya sejarah dan begitu menggadang-gadangkan modernisme, justru terbuka matanya ketika bangunan itu menyimpan sejarah penting dari kehidupan orang tuanya.

Meski film ini ditata dengan sangat artistik, namun buat sebagian penonton awam film ini terasa begitu membosankan. Alur cerita yang bergerak lambat serta gaya bercerita flashback justru akan bisa membuat penonton bingung, mungkin juga menjadi kurang memikat. Terlepas dari persoalan teknis tadi, film "Ruma Maida" ini setidaknya cukup berani untuk melawan arus.

Akankah film berlatar sejarah kebangsaan ini mampu bersaing di antara maraknya film-film horor dan esek-esek yang sangat laris menggaet penonton? Tinggal kita tunggu saja selepas penayangan resmi film ini di bioskop nasional mulai 29 Oktober mendatang. akb/rin

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA