Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Sunday, 3 Safar 1442 / 20 September 2020

Greta Thunberg Melawan Stigma Terhadap Pengidap Asperger

Kamis 26 Sep 2019 17:13 WIB

Rep: Kiki Sakinah/ Red: Reiny Dwinanda

Aktivis lingkungan dari Swedia Greta Thunberg saat berbicara di Climate Action Summit di Majelis Umum PBB di Markas PBB, New York, Senin (23/9).

Aktivis lingkungan dari Swedia Greta Thunberg saat berbicara di Climate Action Summit di Majelis Umum PBB di Markas PBB, New York, Senin (23/9).

Foto: AP Photo/Jason DeCrow
Greta Thunberg mengaku Asperger membantunya melihat dunia melalui lensa yang berbeda.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Mengidap sindrom Asperger (AD) tidak lantas menjadi hambatan bagi aktivis perubahan iklim berusia remaja, Greta Thunberg. Gadis berusia 16 tahun asal Swedia tersebut justru menjadikan sindrom Asperger sebagai "kekuatan supernya" hingga mampu menyampaikan pidato yang menyentak dalam United Nations Climate Action Summit pada awal pekan ini.

Sindrom Asperger adalah gangguan neurologis atau saraf yang tergolong ke dalam gangguan spektrum autisme. Sejak 2013, Asperger dikategorikan sebagai jenis autisme yang masuk di bawah payung gangguan autisme yang lebih luas, setelah sebelumnya didiagnosis tersendiri.

Menurut Austism Speaks, karakteristik Asperger ialah kesulitan dalam berinteraksi sosial, minat yang terbatas, keinginan untuk kesamaan, dan adanya kelebihan spesifik, seperti fokus dan kegigihan yang luar biasa, kecakapan untuk mengenali pola, dan perhatian pada detail.  Menurut the Asperger/Autism Network, diagnosis sindrom semacam ini diperkirakan akan diterima oleh 1 dari 250 orang.

Karakteristik tersebut justru telah membantu Thunberg dengan baik. Di CBS This Morning, ia menjelaskan bahwa Asperger yang diidapnya sebenarnya membantu dia dalam melihat dunia melalui lensa yang berbeda.

Dalam beberapa keadaan, Thunberg mengatakan memiliki diagnosis neurotypica, menjadi orang dengan neurodiverse memang membuatnya berbeda sekaligus memampukannya berpikir secara berbeda. Dalam krisis besar seperti masalah iklim, Thunberg merasa perlu berpikir lebih kreatif

Baca Juga

"Kami perlu berpikir di luar sistem kami saat ini, kami membutuhkan orang-orang yang berpikir di luar kotak dan yang tidak seperti yang lainnya," kata Thunberg, seperti dilansir laman People, Kamis (26/9).

Wawancara tersebut dibuat berdasarkan cicitan sebelumnya yang dia tulis, di mana ia menolak kritik yang menghina penampilan dan perbedaan dari pengidap sindrom Asperger. Sebaliknya, ia menganggap bahwa "berbeda" sebagai kekuatan super".

"Saya tidak mempublikasikan diagnosis saya untuk "bersembunyi" di belakangnya, tetapi karena saya tahu banyak orang awam masih melihatnya sebagai "penyakit" atau sesuatu yang negatif," tulis Thunberg di akun Twitter miliknya.

Thunberg pertama kali menjadi terkenal tahun lalu, setelah ia mengadakan aksi mogok sekolah sebagai protes terhadap perubahan iklim yang terjadi. Aksi protes yang dilakukannya di luar gedung parlemen Swedia setiap Jumat itu mendapatkan perhatian dunia dan menginspirasi siswa sekolah di seluruh dunia untuk ikut ambil bagian dalam aksi tersebut.

Pada Desember 2018, lebih dari 20 ribu siswa telah melakukan aksi mogok sekolah di setidaknya 270 kota. Thunberg dikenal karena kiprahnya dalam mengkampanyekan isu-isu terkait pemanasan global dan perubahan iklim. Pada November 2018 lalu, ia berbicara di TEDxStockholm dan pada Desember tahun yang sama, ia berpidato di Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB).

Bulan lalu, Thunberg berlayar melintasi Samudra Atlantik dengan perahu nol emisi karbon untuk tiba di Kota New York, Amerika Serikat, demi menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Iklim PBB. Pada KTT yang berlangsung Senin (23/9), Thunberg berpidato di hadapan para pemimpin dunia dan mendesak mereka untuk membuat perubahan yang sangat dibutuhkan bagi planet bumi.

Pada Jumat pekan lalu, Thunberg memimpin aksi mogok sekolah sebagai protes terhadap iklim terbesar sepanjang masa, di mana jutaan orang dari lebih dari 150 negara turun ke jalan untuk menuntut agar para pemimpin dunia segera mengambil tindakan untuk menurunkan emisi karbon. Atas kiprahnya dalam memerangi perubahan iklim ini, Thunberg dinominasikan untuk mendapatkan penghargaan Nobel Perdamaian 2019 pada Maret lalu. Voting penghargaan ini akan berlangsung pada Oktober 2019.

Upaya Thunberg ini lantas dipuji berbagai pihak dan bahkan memandangnya sebagai "panutan". Pujian terhadap Thunberg ramai di lini masa Twitter. Bahkan muncul hashtag yang menjadi trending di Twitter "Autistics for Greta".

"Dia adalah PAHLAWAN saya! Wanita muda yang berani dan pandai berbicara. Kami mungkin dianggap 'aneh, aneh, aneh..' Atau kata sifat apa pun yang anda pilih untuk dimasukkan tetapi saya yakin orang-orang pada Autism Spectrum memiliki kekuatan super yang tidak Anda semua lakukan,"  tulis pengguna akun @hmcooperauthor.

Sementara itu, direktur pengembangan untuk the Asperger/Autism Network, Erica Remi, mengatakan kebanggaan Thunberg yang kuat pada Asperger yang diidapnya justru kemudian berfungsi sebagai inspirasi bagi mereka yang berurusan dengan hal yang sama.

"Saya pikir dia adalah panutan bagi semua orang. Tapi saya pikir untuk seseorang yang memiliki Asperger atau yang ada di spektrum autisme, kemampuannya untuk jujur dan mengungkapkannya dengan cara yang memberdayakan adalah hal yang menginspirasi. Greta mengungkapkannya dengan cara yang dia banggakan," kata Remi kepada NBC News.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA