Rabu, 11 Zulhijjah 1439 / 22 Agustus 2018

Rabu, 11 Zulhijjah 1439 / 22 Agustus 2018

Stand Up Comedy Bentuk Pengungkapan Keresahan

Jumat 12 Januari 2018 13:10 WIB

Rep: Hartifiany Praisra/ Red: Indira Rezkisari

Pandji Pragiwaksono

Pandji Pragiwaksono

Foto: Rakhmawaty La'lang/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bagi aktor dan juga komika, Pandji Pragiwaksono, stand up komedi merupakan bentuk pengungkapan keresahan. Menurutnya stand up komedi merupakan komedi argumentatif, di mana seorang komika beragumentasi mengenai keresahannya.

"Bedanya stand up comedy dengan komedi lainnya ada di kata stand up-nya. Stand up itu bukan berarti berdiri tapi membela," kata Pandji pada saat dihubungi Republika.co.id, Jum'at (12/1).

Dia mencontohkan bagaimana remaja yang memiliki keresahan soal hubungan percintaan atau sekolahnya, seperti tentang gurunya dan ulangan mendadak, "Kalau lebih dewasa mungkin keresahannya jadi lebih serius. Ada banyak komedian yang memiliki keresahan-keresahan terkait isu-isu penting, kebangsaan misalnya SARA atau politik," sambung pemeran Hulusi dalam film Ayat-Ayat Cinta 2 ini.

Pandji menuturkan bahwa keresahan tersebut yang disuarakan di atas panggung. Sebagai wujud argumentasi dan wujud protesnya. Untuk itu cukup sering komika menyajikan kritik sosial di atas panggung.

Belajar mengenai tuduhan pada Joshua Suherman dan Ge Pamungkas, pria 38 tahun ini menuturkan bahwa di tiap materi selalu ada ruang untuk terjadi kesalahpahaman. "Jangankan lawakan, kalau dua orang mendengar dua kalimat sama maka ada dua interpretasi berbeda, apalagi lawakan," tuturnya.

Dalam bahasa Indonesia terdapat istilah ambiguitas, baik fonetik, leksikal dan grammatikal. "Jadi sehat-hati apapun komedian menulis materi akan selalu ada peluang tidak tersampaikan dengan baik," lanjut komika yang sudah beberapa kali melakukan tur stand up comedy ini.

Untuk mengurangi risiko tersebut, Pandji memberikan saran seperti memastikan penonton di kontrol, seperti konsep pertunjukan dengan batasan umur tertentu dan harga tiket yang dipatok. "Berbeda kalau di TV atau di upload ke internet. Itu sudah terlalu beragam penontonnya sehingga belum bisa dipastikan pesannya sampai ke penontonnya dengan baik," paparnya.

Pandji memaparkan bahwa banyak komika yang jarang mengambil materi yang berisiko untuk dibawakan di televisi. "Misalnya saya bawakan materi soal edukasi seks, terus tayangnya jam 7 dan banyak anak-anak yang nonton, nggak mungkin," jelasnya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA

 
 

IN PICTURES