Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Saturday, 9 Rabiul Awwal 1440 / 17 November 2018

Semar Ikut Pemilu 1955

Kamis 17 Jul 2008 02:41 WIB

Red:

Bulan Bintang Masyumi

Palu Arit PKI

Kepala Banteng adalah PNI

------

Syair diatas merupakan lagu yang terkenal jelang Pemilu pertama 1955. Berasal dari lagu film Anna produksi Italia dibintangi oleh bintang seksi Silvano Mangano. Namun liriknya diganti dan dipelesetkan dengan tema Pemilu. Pada Nopember 1945, Wakil Presiden DR Mohamad Hatta mengeluarkan Maklumat bernomor X menganjurkan masyarakat mendirikan parpol. Karena itu menjelang Pemilu 1955 yang berlangsung 29 September terasa sekali banyaknya parpol. Selain berdasarkan ideologi seperti nasilonalis, agama dan komunis,ada juga parpol yang berdasdarkan kesukuan dan aliran kepercayaan. Bahkan namanya pun aneh-aneh seperti Partai Semar. Entah alasan apa dinamakan tokoh punakawan, tokoh wayang asli Indonesia. Tokoh berbadan pendek dan berperut buncit, tidak terdapat dalam kitab Ramayana maupun Mahabrata.

Kalau Pemilu 2009 mendatang yang minggu lalu dimulai dengan kampanye tertutup dari 34 parpol pesertanya, diramalkan berjalan lesu karena masyarakat dipusingkan oleh biaya rumah tangga dan biaya sekolah anak-anak, tidak demikian dengan Pemilu 1955. Meskipun tidak ada pembagian kaos dan politik uang, tapi dari 39 juta peserta yang terdaftar, 91 persen memberikan hak suaranya. Kala itu tidak dikenal istilah Golput.

Terjadi kejutan pada Pemilu 1955. PSI (Partai Sosialis Indonesia) yang dipimpin Sutan Sjahrir ambruk dan hanya merebut 10 kursi. Padahal PSI didukung surat-surat kabar besar seperti Pedoman, Indonesia Raya dan Keng Po. Tapi pada masa Orba tokoh-tokoh PSI yang berperan mengarsiteki pembangunanb. Pada tahun 1950'an, surat-surat kabar berorientasi pada parpol. Seperti Masyumi (Abadi), PNI (Suluh Indonesia), PKI (Harian Rakyat), dan Partindo (Bintang Timur). Hasil Pemilu 1955 adalah empat besar PNI 119 kursi, Masyumi 112 kursi, NU 91 kursi dan PKI 60 kurdi. Tapi, Masdumi unggul di Jakarta mengalahkan PNI sebagai kontestan yang dijagokan Presiden Soekarno. Prestasi yang cukup baik bila diingat, para birokrat khususnya camat dan lurah di Jakarta umumnya orang PNI. Rupanya kala itu mereka benar-benar netral. Sejak Orba mereka diharuskan untuk memenangkan Golkar.   

Antusiasme masyarakat Jakarta menyambut kampanye Pemilu 1955 tergambar dalam laporan harian Pemandangan. Rakyat di kampung-kampungbanyak yang berbondong-bondong menyaksikan kedatangan mobil-mobil kampanye dari Kementerian Penerangan. Pada masa kampanye para pimpinan parpol lebih sering turun ke kampung-kampung untuk bicara langsung dengan simpatisannya. Seperti Ketua Umum Masyumi Mohammad Natsir, Sukarni (Murba), dan Sutan Sjahrir (PSI) pernah datang ke Kampung Kwitang, Jakarta Pusat. Mereka berbincang dan bersalaman dengan orang kampung. Bahkan menyalami para tukang becak.     

Persaingan sengit terjadi antara Masyumi dan PKI. Seorang jurkam PKI dalam kampanye di Lapangan Banteng menyatakan : ''Jangan pilih Masyumi. Kalau Masyumi menang Lapangan Banteng dirubah menjadi Lapangan Onta.''

Kemudian dalam kampanye yang sama di lapangan tersebut jurkam Masyumi membalas : ''Jangan pilih PKI. Kalau PKI menang Lapangan Banteng diubah jadi Lapangan Merah atau Lapangan Kremlin.'' Nyatanya, sekalipun Masyumi menang di Jakarta, Lapangan Banteng tetap Lapangan Banteng.

Kerasnya persaingan ini, dikemukakan oleh KH Firdaus A.N. yang pada Pemilu 1955 menjadi caleg dan jurkam Masyumi. ''Ketika saya dan tokoh Masyumi KH Isa Anshari berkampanye di Tanjung Priok, tiba-tiba pengeras suara mati disabotase oleh buruh-buruh pelabuhan yang kebanyakan orang PKI.''  ''Yang saya tidak habis pikir begitu hebatnya persaingan waktu itu kota tidak ada satu orangpun yang menjadi korban.''  

Waktu itu para jurkam menonjolkan arti dan ciri-ciri tanda gambar mereka masing-masing. PNI membanggakan tanda gambar bantengnya sebagai lambang kaum nasionalis Indonesia. Dengan meniru slogan Bung Karno: 'Kita adalah bangsa banteng.'  Masyumi dengan bulan bintangnya yang digambarkan tidak pernah putus-putusnya menyinari bumi sepanjang hari.  Sedangkan jurkam NU mempunyai tafsiran tentang tanda gambar mereka : bola bumi yang dikelilingi sampul dengan sembilan bintang dipinggirnya. Melambangkan Wali Songo, sembilan wali yang menyiarkan Islam di Indosnesia. Prestasi NU memang cukup menyolok dalam Pemilu pertama ini mengingat partai ini baru saja memisahkan diri dari Masyumi.

KH Isa Anshari, tokoh Masyumi mendapat julukan 'singa podium' dan 'Napoleannya Masyumi'. Isa yang bertubuh pendek dan gempal seperti Napolean dikenal dalam pidato-pidatonya sangat berani dan berapi-api. Bukan hanya tudingan soal Lapangan Banteng, PKI juga menuding Masyumi sebagai kaki tangan DI/TII, antek imperialis dan masih banyak lagi. Sementara Masyumi menuding partai berhaluan kiri itu sebagai kaki tangan Soviet, RR Cina, anti Tuhan hingga tidak layak hidup di Indonesia.

Itulah secelumit kisah Pemilu 1955 sekalipun persaingan antar parpol begitu keras, tapi merupakan Pemilu yang bersih dan aman. Padahal alat-alat keamanan tidak disibukkan untuk menjaga keamanan seperti sekarang.  

Seperti dikemukakan KH Firdaus A.N., tidak ada jadwal kampanye seperti pemilu berikutnya. ''Pokoknya, kami bebas untuk berkampanye di sepanjang tempat dan sembarang waktu. Tidak perlu meminta izin dari aparat keamanan. Paling-paling kami mengatur tempat dan lapangan,'' seperti dituturkan Firdaus A.N. fif

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA