Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Tuesday, 20 Zulqaidah 1440 / 23 July 2019

Nilai Rasa Bahasa; ’’Kowe Sontoloyo, Cuk!’’

Ahad 17 Feb 2019 09:53 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Jancuk, antara kemesraan dan makian

Jancuk, antara kemesraan dan makian

Foto: jancuk
Sontoloyo dan Jancuk adalah ucapan makian dalam keakraban

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Priyantono Oemar

Rukmi Hapsari meminta ayahnya menunggu ke depan toko, karena ia harus masuk ke toko lagi untuk membeli beras merah titipan kakaknya. Saat antre di kasir sebuah toko di Delft, Belanda, ia melihat ayahnya sebentar-sebentar menengok ke dalam toko.

Perilaku ayahnya itu, menurut peserta kursus bahasa Belanda di Euro Management, Jakarta, itu,  seperti sedang memastikan dirinya sudah selesai membeli barang. Ketika orang yang di depannya sudah meninggalkan kasir, giliran Rukmi membayar belanjaan, sembari mengawasi ayahnya yang menunggu di luar.

Keluar dari toko, ia disambut ayahnya dengan tawa terpingkal-pingkal yang bahasa Belandanya adalah (kakelen). Orang Jawa menyebutnya ngguyu kekelen. Ayahnya bercerita, gara-gara celingak-celinguk di depan pintu toko, ada pembeli yang keluar dari toko memberinya recehan euro, yang bisa dipakai untuk membeli indische soep (soto ayam). Tentu saja ayahnya menolak pemberian itu.

Orang Belanda yang memberi recehan kepada ayahnya itu tidak sedang merendahkan ayahnya. Begitulah di Belanda. Orang yang terlihat celingak-celinguk di depan toko adalah ciri-ciri orang yang membutuhkan uang receh.

Di masa kolonial dulu, orang-orang Belanda memanggil kowe untuk orang-orang Jawa. Itu ekspresi kasar yang memiliki nilai rasa bahasa yang merendahkan. Saat itu, kowe juga dipakai Belanda untuk memanggil orang Indonesia yang menjadi pelayan atau karyawan di perusahaan.

Kowe memiliki nilai rasa akrab jika digunakan oleh orang-orang dekat yang sebaya. Namun, efek yang diterima pendengar menjadi berbeda ketika diucapkan oleh orang Belanda kepada orang Jawa/Indonesia di masa itu. Kadar perasaan yang ada di makna atau maksud penggunaan kowe mengalami perubahan, menjadi merendahkan.

Ketika Indonesia merdeka dan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi, pelan-pelan orang Belanda mengubah kebiasaan penyebutan kata kowe. Orang-orang Belanda pun merasa perlu menyesuaikan diri dengan nilai rasa bahasa itu dalam surat-surat resmi.

Mereka pun kemudian mengganti kowe dengan kata 'kamu' atau 'engkau' untuk menghindari kesalahpahaman. Kamu dan engkau merupakan padanan dari kata-kata Jawa yang tidak dipakai orang-orang Belanda, yaitu sampeyan dan panjenengan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA