Minggu, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Minggu, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Kepulan Asap Dupa di Rumah Warga Cina Benteng

Kamis 07 Feb 2019 05:37 WIB

Rep: Bayu Adji P/ Red: Karta Raharja Ucu

Seorang wanita keturunan etnis Tionghoa Tangerang atau Cina Benteng menyalakan hio saat merayakan  Imlek di rumahnya di kawasan Kampung Lebak Wangi, Mekarsari, Tangerang, Banten

Seorang wanita keturunan etnis Tionghoa Tangerang atau Cina Benteng menyalakan hio saat merayakan Imlek di rumahnya di kawasan Kampung Lebak Wangi, Mekarsari, Tangerang, Banten

Foto: Antara/Ismar Patrizki
Tangerang itu namanya dulu Benteng, karena banyak rumah berbentuk bentengan

REPUBLIKA.CO.ID, Aroma dupa sangat terasa saat baru memasuki Gang Lebak, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Selasa (5/2). Maklum saja, hari itu merupakan perayaan Tahun Baru Imlek 2570. Sementara warga keturunan yang tinggal di kampung itu mayoritas adalah masyarakat yang dikenal dengan nama Cina Benteng.

Gapura gang terbentuk menyerupai gapura di Cina, bertuliskan Perkumpulan Tjong Tek Bio. Aneka warna lampion tergantung dari depan gapura, melewati jalan yang hanya muat satu kendaraan roda empat, hingga Kelenteng Tjong Tek Bio, yang berjarak 200 meter.

Tahun ini, perayaan Imlek di RW 04, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, memang dilakukan lebih meriah. Aneka warna lampion yang tergantung di sepanjang jalan itu adalah buktinya.

Ketua RT 01/04, Kelurahan Mekarsari Ong Giok Seng (56 tahun) mengatakan, baru tahun ini perayaan Imlek dilakukan dengan memasang lampion di sepanjang jalan kecil dari gang ke kelenteng. Menurut dia, pemasangan lampion itu merupakan instruksi dari lurah agar lebih meriah.

"Lurah apresiasi warga di sini di sini. Lurah sebelumnya mah jarang," kata dia saat Republika.co.id berkunjung ke rumahnya, Selasa (5/2).

photo

Suasana lingkungan RT 01/04 Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Neglasasi, Kota Tangerang, saat merayakan Imlek, Selasa (5/2). (Foto: Bayu Adji P/Republika)

Di rumah yang memiliki luas sekitar 100 meter persegi itu, Ong juga sedang menerima tamu, dua orang perempuan berkerudung dan satu lelaki dewasa. Ketiga tamunya merupakan teman Ong semasa sekolah dan sengaja berkunjung untuk mengucapkan selamat Imlek.

Aneka ragam makanan ringan juga tersedia di meja tamu. Kue keranjang, kue satu, kue bangkit, hingga astor, sengaja ditaruh untuk dinikmati tamunya yang datang.

Ia juga menawari Republika.co.id dengan kue satu, yang terbuat dari kacang-kacangan, dan kue bangkit, yang terbuat dari sagu. Menurut dia, dua jenis kue itu harus dimakan secara bergantian.

"Setelah kita bersatu, baru kita bisa bangkit," kata dia sambil berseloroh. Ketiga tamunya pun ikut tertawa.

Seperti itulah nuansa perayaan Imlek di kampung itu. Masyarakat sekitar biasa menyebut masyarakat yang tinggal di tempat itu sebagai Cina Benteng.

Perayaan Imlek tak ada beda dengan Lebaran atau Natal. Saat Imlek, keluarga yang lebih muda mengunjungi sanak saudara yang lebih tua, setelah malamnya beribadah kepada para leluhur di kelenteng.

Orang-orang yang sudah bekerja juga diwajibkan memberikan angpau kepada yang belum bekerja, anak-anak, dan juga lansia. Beberapa kali, anak-anak kecil juga menghampiri rumah Ong. Mereka mengucapkan "gong xi fa cai", lalu istri Ong memberikan uang kepada anak-anak itu.

Ong tak ingat ia keturunan ke berapa di negeri ini. Yang ia tahu, sejak lahir dirinya sudah berada di Tangerang. Bahkan, kakeknya dahulu adalah ketua RK --sekarang RW-- di lingkungan itu.

Ia mengakui, cap Cina Benteng memang kerap disandangkan untuk masyarakat keturunan yang tinggal di Tangerang. Namun, hal itu bukanlah sebuah persoalan baginya. Memang kenyataannya mereka adalah masyarakat Kota Tangerang.

"Tangerang itu namanya dulu Benteng, karena banyak rumah berbentuk bentengan," kata dia.

Meski kerap disebut Cina Benteng, bukan berarti masyarakat keturunan di tempat itu dikucilkan. Menurut Ong, kerukunan antarwarga sangatlah terjaga dan biasa hidup beragam. Bahkan, tak jarang warga yang beragama Islam atau Kristen, datang bersilaturahim saat Imlek. Begitu juga sebaliknya.

"Gak ada istilah si Cina, si Muslim, si Kristen, semua membaur jadi satu, saling hormat. Itulah orang Cina Benteng, tak membedakan suku ras apa pun. Mereka hidup berbhineka," tegas dia.

Menurut dia, sejak awal warga keturunan di daerah itu memang sudah membaur dengan warga setempat. Ada juga yang menikah dengan warga Muslim dan hidup bahagia. Karena itu, tak pernah ada perselisihan antarwarga di tempat itu.

Meski hidup damai, bukan berarti semua masyarakat keturunan di Tangerang semuanya sejahtera. Ong mengakui, ada stereotip bahwa Cina Benteng adalah warga miskin. Pasalnya, banyak masyarakat yang masih tinggal di bantaran Sungai Cisadane.

"Ada yang hidup di daerah bantaran sungai. Kalau menurut orang warga keturunan yang dibilang miskin, tidak semua. Tapi ada beberapa orang yang berhasil. Karena memang untuk bantaran ini, banyak yang tidak mampu," kata dia.

Namun baginya, selama tetap hidup rukun, persoalan ekonomi bukan jadi soal besar. Apalagi, Ong percaya, di tahun Babi Tanah yang disambutnya, kehidupan masyarakat akan lebih sejahtera dan tenang.

"Tahun babi tanah, yang berunsur tanah. Tanah itu tahun yang penuh ketenangan dan kedamaian, dan banyak rezeki," kata dia.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA