Minggu, 14 Ramadhan 1440 / 19 Mei 2019

Minggu, 14 Ramadhan 1440 / 19 Mei 2019

Denyut Nadi Imlek dalam Asimilasi Budaya Tionghoa

Selasa 05 Feb 2019 08:27 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Karta Raharja Ucu

Seorang santri melintas di depan poskamling sebuah Pondok Pesantren di Kampung Wisata Pecinan, Lasem, Jawa Tengah. Bangunan kuno serta riwayat sejarah yang membentuk akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa di kawasan tersebut.

Seorang santri melintas di depan poskamling sebuah Pondok Pesantren di Kampung Wisata Pecinan, Lasem, Jawa Tengah. Bangunan kuno serta riwayat sejarah yang membentuk akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa di kawasan tersebut.

Foto: ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto
Di sejumlah daerah, Imlek bukan hanya milik warga Tionghoa

REPUBLIKA.CO.ID, Etnis Tionghoa memiliki beracam cara merayakan Imlek. Bahkan, beberapa perayaan berbaur dengan tradisi masyarakat setempat.

Munawir Aziz dalam buku Merawat Kebinekaan menulis, perayaan tahun baru Imlek, menjadi bagian dari ekspresi kultural orang-orang Tionghoa di Indonesia. Perayaan Imlek tidak hanya ramai diselenggarakan di Klenteng, tetapi juga menjadi ritual tradisi di gereja, masjid, bahkan sebagai kirab massal lintar komunitas.

Di Semarang, perayaan Imlek dinikmati warga lintas etnis. Banyak masyarakat yang mengunjungi beragam festival di kawasan Pecinan. Pasar Imlek Semawis (PIS) menjadi rujukan penyelenggaraan agenda merayakan Imlek. Sebab, ada beragam agenda, seperti festival kuliner, pertunjukan wayang Potehi, hingga pengobatan massal.

Di Lasem, Jawa Tengah, Imlek tidak hanya milik orang Tionghoa. Warga setempat turut merasakan denyut nadi Imlek. Perayaannya bukan sebagai kegiatan keagamaan, tetapi sebagai ruang publik bersama yang diakses warga lintas etnis.

Di Surakarta, orang Tionghoa bersama warga lintas etnis menyelenggarakan Imlek dalam tradisi Jawa. Sementara itu, Persatuan Islam Tinghoa Indonesia (PITI) Yogyakarta menyelengarakan Imlek di Masjid Syuhada beberapa tahun lalu.

Pembaruan lintas etnis inilah yang menjadikan momentum Imlek sebagai peristiwa penting. Akulturasi tradisi ini menjadi jembatan untuk menegosiasikan ritual antarsekat etnis dan agama.

Dalam Majalah Masyarakat ASEAN Edisi 11: Mewujudkan Masyarakat ASEAN yang Dinamis terbitan Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri RI ditulis, masyarakat Tionghoa yang menempati Nusantara merayakan Imlek sejak berabad-abad lalu. Tak terkecuali di Singkawang, Kalimantan Barat.

Singkawang menjadi salah satu kota yang istimewa saat perayaan Imlek. Terdapat panggung hiburan, kemeriahan kembang api, iring-iringan barongsai dan ratusan gerai. Keharmonisan antara penduduk keturunan Tionghoa dan penduduk asli, berpadu dengan panorama alam yang indah, menjadikan Kota Singkawan itu wajib dikunjungi saat perayaan Imlek.

Dalam artikel Ingin melihat Asimilasi Sukses Tionghoa-Pribumi? Datanglah ke Lasem yang terbit di Republika, menuliskan, Pramoedya Ananta Toer pernah mencatat, Lasem menjadi saksi perpaduan budaya Islam dan Cina. Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia Kabupaten Rembang Edy Winarno mengisahkan, seorang Cina Muslim bermashab Hanafi, Bi Nang Un mendirikan perkampungan Cina di Lasem. Dia adalah utusan Dinasti Ming yang mengajarkan Islam dan berasal dari wilayah Yunan. Setelah itu, gelombang kedatangan orang Cina berikutnya, didominasi orang Hokkian yang menganut agama Kong Hu Cu.

Dalam buku Islam dan Urusan Kemanusiaan yang ditulis Hilman Latief dan Zazan Zainal Mutaqin disebutkan, hubungan orang Tionghoa dan Jawa semakin erat pada 1742-1750. Tepatnya, saat terjadi pemberontakan orang Lasem terhadap rezim VOC. Saat itu, perang melawan VOC dipimpin tiga bersaudara (setelah mengucap sumpah saudara angkat).

Pertama, Raden Ngabehi Widyadiningrat (Oey Ing Kiat), seorang Adipati Lasem (1727-1743) dan Mayor Lasem (1743-1750). Kedua, Raden Panji Margono, Putra Tejakusuma V sang Adipati Lasem (1714-1727). Ketiga, seorang pendekar kungfu dan pengusaha di Lasem, Tan Kee We.

Pengasuh Pondok Pesantren Kauman Lasem KH Zaim Ahmad Ma’shoem (Gus Zaim) menyebutkan, permbauran etnis di Lasem, menelurkan proses asimilasi dan akulturasi budaya yang saling mempengaruhi. Tingginya nilai toleransi antarwarga, menjadikan kehidupan antaragama menjadi berkembang.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA