Selasa, 20 Zulqaidah 1440 / 23 Juli 2019

Selasa, 20 Zulqaidah 1440 / 23 Juli 2019

Menyusuri Panti Pijat Hingga Bisnis Susu di Segitiga Emas

Rabu 23 Jan 2019 15:17 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Pekerja memerah susu sapi di peternakan sapi perahan di kawasan Mampang, Jakarta, Selasa (15/3).

Pekerja memerah susu sapi di peternakan sapi perahan di kawasan Mampang, Jakarta, Selasa (15/3).

Foto: Republika/Agung Supriyanto
Kawasan segitiga emas dulu dikuasai panti pijat, peternak susu, hingga pabrik batik

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Lalu lintas di Tanah Abang —yang tengah berambisi menjadi sentra bisnis terbesar di Jakarta— makin hidup sejak beroperasi Kereta Rel Listrik (KRL). Tiap hari, sejak Subuh hingga malam, ribuan penumpang dari Bogor, Bojonggede, Citayam, Depok, dan sekitarnya, yang bekerja di Jakarta memanfaatkan KRL. Baik saat pergi maupun pulang kantor.

Untuk menunjang sentra industri yang kini tengah dibangun di beberapa lokasi di sekitar Jakarta, Tanah Abang disiapkan akan menjadi salah satu pemusatan monoreal. Bagi mereka yang tinggal di Bogor dan Depok kini lebih senang naik kereta api ketimbang mobil pribadi. Apalagi premium sekarang dikurangi, membelinya pun harus ngantre, belum lagi kena macet yang sudah makin gak ketolongan di ibu kota. Naik kereta api bisa menghemat BBM, seperti dianjurkan pemerintah.

Tidak heran kalau penumpang KRL Bogor-Tanah Abang berjubelan. Di antara stasiun kereta yang dipadati penumpang adalah Stasiun Sudirman. Nama baru untuk Stasiun Dukuh Atas, salah satu kampung tua di kelurahan Setiabudi. Letaknya di ujung Jalan Blora dan Jalan Kendal. Jalan Blora, Jakarta Pusat, sampai 1970-an terkenal dengan Sate Bloranya.

Pada masa gubernur Ali Sadikin, ketika steambath (panti pijat) dan klub malam banyak berdiri di Jalan Blora, tukang sate dipindahkan ke Jalan Kendal, bersebelahan dengan Blora. Para tukang sate, sop dan gorengan itu awalnya berdagang di pasar Tanah Abang. Di antara pedagang sate terkenal adalah Mat (Muhammad) Kumis. Kini, banyak pedagang sate, sop kaki, dan soto yang menambahkan nama Kumis di belakang namanya. Yang pasti, tidak semua pedagang sate berkumis.

photo

Suasana tempat parkir di lokasi eks Pasar Blora, Jakarta Pusat, Selasa (5/9).

Banyaknya penumpang yang turun dan naik di Stasiun Sudirman karena dari sini mereka dengan mudah mendatangi tempat kerjanya di sekitar Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Thamrin, dan Setiabudi. Tapi, ada yang mempertanyakan, mengapa nama Stasiun Dukuh Atas kini jadi Stasiun Sudirman. Padahal Jalan Sudirman baru ada setelah Bung Karno membangunnya awal 1960-an, saat menghadapi Asian Games 1963.

Sedangkan Dukuh Atas sudah berusia ratusan tahun. Berawal dari Kampung Dukuh. Karena letaknya di bagian atas dinamakan Dukuh Atas. Di dekatnya terdapat Kampung Dukuh Bawah, di sebelah timur SMU 3 Setiabudi. Karena terletak di bagian bawah, kampung yang berbatasan dengan Jalan Halimau dan Jalan Kawin itu dinamakan Dukuh Bawah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA