Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Wednesday, 4 Zulhijjah 1439 / 15 August 2018

Penutupan Alexis dan Warisan Bisnis Prostitusi Era Belanda

Kamis 29 March 2018 06:26 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Suana tempat pelacuran di pinggiran Jakarta tahun 1948(16/2).

Suana tempat pelacuran di pinggiran Jakarta tahun 1948(16/2).

Foto: dok. Istimewa
Sejak Belanda berkuasa di Indonesia, bisnis prostitusi sulit dihilangkan.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Pemberitaan penutupan Alexis menjadi pembicaraan hangat di masyarakat setelah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan telah resmi mencabut tanda usaha izin pariwisata (TDUP) PT Grand Ancol Hotel selaku pengelola Hotel Alexis. Pencabutan izin usaha ini berarti menghentikan seluruh unit usaha yang ada di Hotel Alexis untuk beroperasi.

Hotel yang disebut sebagai salah satu sarang kupu-kupu malam terbesar di Indonesia itu ternyata bukan satu-satunya tempat prostitusi di Jakarta. Praktik jual beli nafsu di Jakarta sudah berlangsung berabad-abad, bahkan sejak Belanda menjajah Indonesia.

Satu kawasan yang dikenal sebagai pusat maksiat adalah Mangga Besar. Kepolisian menyatakan kawasan Mangga Besar sebagai salah satu pusat transaksi narkoba di Jakarta.

Penyebabnya karena kawasan di Jakarta Kota ini dipadati berbagai tempat hiburan: pelacuran, klub malam, panti pijat, perjudian, dan entah apa lagi namanya. Saya sempat mewawancarai seorang petugas di Kelurahan Mangga Besar. Ia mengemukakan, pada malam hari penduduk kelurahannya meningkat dua kali lipat dibanding siang hari. Entah berapa ratus miliar uang dihabiskan mereka dalam semalam mencari hiburan di sana.

photo

Gedung Hotel Alexis, Jakarta, Selasa (31/10).

Pelacuran memang sudah merajelela sejak awal berdirinya Kota Batavia. Akibat kurangnya jumlah wanita saat itu, bisnis pelacuran pun menggeliat. Seperti pada 13 Agustus 1625, hanya enam tahun setelah JP Coen mendirikan Batavia, seorang perempuan pribumi, Maria, mengadukan suaminya, Manuel, kepada polisi. Manuel memaksa dirinya dan budak perempuannya untuk mencari nafkah haram dengan menerima uang lendir setiap hari.

Pada Agustus 1631, diketahui bahwa beberapa perempuan telah melakukan zina dengan orang-orang Cina dan Banda. Sementara, sejumlah orang yang memelihara budak-budak perempuan memerintah mereka untuk melacur setiap harinya. Sementara, si pemilik budak tinggal memetik penghasilan besar.

(Baca Juga: Anies Tutup Total Alexis)

Pelacuran di Jakarta sudah dikenal sejak awal munculnya VOC. Dalam sejarah Betawi tidak dikenal pekerjaaan serupa, baik pada masa pra-Islam maupun pada masa Islam. Orang Betawi pada awalnya tidak mengenal istilah pelacur yang kemudian dilunakkan sebutannya menjadi WTS (wanita tunasusila) dan kini lebih diperlunak lagi menjadi PSK (pekerja seks komersial). Orang Betawi menyebutnya dengan cabo yang merupakan adaptasi dari bahasa Cina caibo dan moler berasal dari bahasa Portugis. Sebutan lainnya adalah kupu-kupu malam.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA