Kamis, 5 Zulhijjah 1439 / 16 Agustus 2018

Kamis, 5 Zulhijjah 1439 / 16 Agustus 2018

Di Tempat-Tempat Ini Biasanya Gay Mencari Mangsa

Selasa 23 Januari 2018 10:41 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Trem Uap di Wilhelmina Park

Trem Uap di Wilhelmina Park

Foto: OUD Batavia
Salah satunya trem, bahkan Alwi Shahab pernah dipepet seorang homo saat naik trem.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Kabar adanya fraksi di DPR yang mendukung lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT) membuat masyarakat terhenyak. Bagaimana tidak, selain tidak sesuai adat ketimuran, perilaku LGBT juga tidak sesuai dengan semua agama. Saya punya pengalaman sendiri saat dipepet seorang gay saat naik trem.

Sebenarnya, LGBT bukan fenomena baru. Saat Belanda masih menjajah Indonesia, di Batavia fenomena penyuka sesama jenis itu sudah marak di kalangan warga Belanda. Ketika itu, masyarakat menyebutnya sebagai kaum homoseksual atau homo.

Komunitas homo biasanya tertutup. Mereka tidak berani tampil terang-terangan di depan masyarakat. Berbeda dengan sekarang, di mana kelompok homo, baik gay maupun lesbian, berani bermesraan bersama pasangannya di muka umum.

Pada zaman Belanda, tempat-tempat hiburan selalu diisi dengan pertunjukan dansa-dansi yang dilakukan para kelompok homo atau bencong. Mereka beroperasi di tempat hiburan, termasuk Pekan Raya Jakarta, di Gambir. Orang-orang homo datang ke Pekan Raya Jakarta untuk menikmati hiburan.

Dalam pemerintahan Belanda, mereka itu banyak yang bekerja di kantor-kantor. Namun, mereka tidak berani menunjukkan identitasnya secara terang-terangan.

Bahkan, ada juga beberapa pejabat Belanda yang ketahuan pengidap homo. Saya pernah melihat orang Indo (keturunan Belanda dan Indonesia) yang termasuk homo.

Pria homo terlihat dari gaya penampilannya. Meski penyuka sesama jenis, orang homo Indo tetap pilih-pilih.

Mereka enggan berpasangan dengan orang homo pribumi karena dianggap jelek. Sifat diskriminasi itu yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari oleh Pemerintah Belanda, seperti naik trem, di mana orang Belanda dan Eropa masuk kelas satu, orang Cina dan Arab masuk kelas dua, dan warga pribumi masuk kelas tiga, terbawa dalam prinsip orang homo Indo.

Mereka maunya berpasangan dengan orang homo keturunan Belanda atau Eropa lainnya. Namun, kalau ada orang homo pribumi berwajah ganteng, kadang bisa juga jadi pasangannya.

Saya punya pengalaman bersentuhan dengan orang homo Indo ketika Indonesia sudah merdeka. Orang homo itu tiba-tiba mendekati dan berusaha menempelkan badannya dari arah belakang. Beruntung saat itu saya tahu ulah orang homo itu.

Biasanya orang orang itu beroperasi ketika trem dalam kondisi penuh penumpang. Bahkan, ada yang beroperasi di trem jurusan Pasar Ikan (Kota Tua) menuju Jatinegara, yang waktu itu menjadi rute paling banyak penumpangnya.

Akan tetapi, waktu itu anak-anak muda kelompok homo tidak terang-terangan tampil. Homo itu penyakit, tetapi jumlah orang homo sekarang malah bertambah banyak dan semakin berani unjuk identitas.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA