Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Sabtu, 8 Zulqaidah 1439 / 21 Juli 2018

Keterlaluan, Israel Gusur Rumah Warga Arab Demi Taman

Kamis 24 Juni 2010 22:03 WIB

Red: Ririn Sjafriani

Tampak reruntuhan bangunan di Palestina.

Tampak reruntuhan bangunan di Palestina.

Foto: monabaker.com

REPUBLIKA.CO.ID, PBB--Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, Rabu (23/6), menyampaikan keprihatinan terhadap rencana Israel untuk menghancurkan 22 rumah orang Arab guna membuat taman arkeologi di Jerusalem timur.

Ban Ki-moon sangat prihatin dengan keputusan oleh Kotapraja Jerusalem untuk melanjutkan rencana penghancuran rumah dan perluasan permukiman Yahudi di daerah Silwan, Jerusalem timur, kata jurubicara Sekretaris Jenderal PBB Martin Nesirky dalam satu pernyataan.

"Tindakan yang direncanakan tersebut bertentangan dengan hukum internasional, dan keinginan penduduk Palestina," katanya dalam pernyataan seperti dilaporkan AFP.

Dia juga mengingatkan pemerintah Israel mengenai tanggung jawab untuk menjamin bahwa tindakan provokatif, yang hanya akan meningkatkan ketegangan di kota tersebut, tak dilakukan.

"Tindakan Kotapraja Jerusalem saat ini tak membantu, dan dilakukan saat sasaran global harusnya berupa pembangunan kepercayaan guna mendukung perundingan politik," demikian antara lain isi pernyataan tersebut.

Taman itu, yang direncanakan dibangun di atas permukiman Arab yang digusur tepat di luar tembok Kota Tua,

Rencana tersebut diajukan kepada komite perencanaan dan pembangunan kota itu pada Senin. Komite tersebut mensahkan Gan Hamelech, nama dalam Bahasa Yahudi daerah di luar Kota Tua yang dikenal dengan nama Al-Bustan oleh kebanyakan warga Arab di kota itu.

Berdasarkan rencana tersebut, 22 rumah akan dihancurkan. Total  88 rumah  telah dipilih untuk dimusnahkan karena "semuanya dibangun tanpa izin pemerintah Israel".

Masalah tersebut lebih sensitif karena kebanyakan masyarakat internasional tak mengakui pencaplokan Jerusalem timur oleh Israel sejak Juni 1967.

Sumber : Ant/AFP
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA