Ahad 10 Jul 2016 07:00 WIB

Mudik Tahun 1960-an, dan Cerita Sukarno Berantas Buta Huruf

Pemudik yang menuju Pelabuhan Merak.
Foto: Raisan Al Farisi/Republika
Pemudik yang menuju Pelabuhan Merak.

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Warga Jakarta selama seminggu bebas dari kemacetan la lu lintas karena ditinggal mudik Lebaran penduduknya. Saya merasakan lalu lintas seperti pada 1960-an, ketika kota masih lengang.

Satu segi positif kebiasaan mudik adalah dana puluhan triliun rupiah mengalir dan tersedot ke daerah-daerah dan menghidupkan perekonomian setempat. Bank Indonesia (BI) memperkirakan, nilai transaksi sepanjang masa mudik mencapai hampir lebih dari Rp 90 triliun dibawa 22 juta pemudik.

Sayangnya, korban tewas kecelakaan, terutama sepeda motor, masih cukup tinggi. Korban meninggal dunia karena mudik yang paling fenomenal terjadi saat kemacetan di pintu keluar tol Brebes Timur atau lebih dikenal 'Brexit'.

Menurut saya, perlu ada pengaturan lalu lintas agar tidak berulang. Pada 1950-an dan 1960-an, meski Jakarta mulai didatangi banyak pendatang tapi gelombangnya biasa saja. Artinya, Pemprov DKI tidak disibukkan untuk mengerahkan angkutan Lebaran seperti sekarang.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement