Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Tuesday, 16 Rabiul Akhir 1442 / 01 December 2020

Mudik Tahun 1960-an, dan Cerita Sukarno Berantas Buta Huruf

Ahad 10 Jul 2016 07:00 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Pemudik yang menuju Pelabuhan Merak.

Pemudik yang menuju Pelabuhan Merak.

Foto: Raisan Al Farisi/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Alwi Shahab

Warga Jakarta selama seminggu bebas dari kemacetan la lu lintas karena ditinggal mudik Lebaran penduduknya. Saya merasakan lalu lintas seperti pada 1960-an, ketika kota masih lengang.

Satu segi positif kebiasaan mudik adalah dana puluhan triliun rupiah mengalir dan tersedot ke daerah-daerah dan menghidupkan perekonomian setempat. Bank Indonesia (BI) memperkirakan, nilai transaksi sepanjang masa mudik mencapai hampir lebih dari Rp 90 triliun dibawa 22 juta pemudik.

Sayangnya, korban tewas kecelakaan, terutama sepeda motor, masih cukup tinggi. Korban meninggal dunia karena mudik yang paling fenomenal terjadi saat kemacetan di pintu keluar tol Brebes Timur atau lebih dikenal 'Brexit'.

Menurut saya, perlu ada pengaturan lalu lintas agar tidak berulang. Pada 1950-an dan 1960-an, meski Jakarta mulai didatangi banyak pendatang tapi gelombangnya biasa saja. Artinya, Pemprov DKI tidak disibukkan untuk mengerahkan angkutan Lebaran seperti sekarang.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA