Wednesday, 14 Jumadil Akhir 1442 / 27 January 2021

Wednesday, 14 Jumadil Akhir 1442 / 27 January 2021

Si Pitung di Mata Milenial

Senin 24 Feb 2020 10:30 WIB

Rep: MGROL128/ Red: Yudha Manggala P Putra

Dicky Zulkarnaen pemeran Pitung dalam film berjudul Si Pitung (1970) yang disutradarai Nawi Ismail.

Dicky Zulkarnaen pemeran Pitung dalam film berjudul Si Pitung (1970) yang disutradarai Nawi Ismail.

Foto: Youtube
Pitung kalah masyhur di mata milenial ketimbang Captain America dan Iron Man.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Si Pitung seperti mulai kehilangan kemasyhurannya. Sepuluh-dua puluh tahun lalu, tokoh yang dijuluki Robin Hood Tanah Betawi ini masih banyak yang kenal. Dari cerita rakyat hingga layar kaca, kiprah sang legenda terus dihidupkan. Namun, sebaliknya ketika masuk era post-milenial. Sosoknya terasa memudar. Generasi muda yang kenal dan mengaguminya kian langka.

Banyak faktor penyebab. Salah duanya karena makin sedikit atau bahkan tak ada, film atau tayangan televisi terbaru soal Si Pitung. Kisahnya dari mulut ke mulut juga lamat-lamat menguap.

Generasi muda sekarang lebih kenal sosok pahlawan luar negeri seperti Spiderman, Iron Man, Captain America, hingga Superman, dan Batman. Anak zaman now yang tidak kenal para superhero asing ini justru dianggap kurang pergaulan. Kuper, kata mereka.

Ensiklopedia Jakarta menggambarkan Pitung sebagai pendekar tempo dulu. Ia pembela kebenaran yang melawan ketidakadilan penguasa pada zamannya. Kisahnya diyakini nyata oleh masyarakat. Terutama di daerah tempat asalnya.

Pitung disebut berasal dari Kampung Rawa Belong, Jakarta Barat. Sejak kecil ia diharapkan menjadi orang saleh dan taat beragama. Sebab itu, ayahnya Bang Piun dan ibunya Mpok Pinah menitipkannya belajar mengaji dan bahasa Arab ke Haji Naipin.

Pitung kecil belajar mengaji di langgar kampung Rawa Belong. Menurut cerita ia digambarkan sebagai orang 'terang hati', mudah menangkap pelajaran agama yang diberikan ustadznya, sampai mampu membaca tilawah Alquran. Selain itu, seperti warga Betawi lainnya, Pitung belajar ilmu silat.

Suatu ketika di usia remaja, Pitung diperintahkan ayahnya menjual kambing ke pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ketika dagangannya habis, ia dibegal oleh beberapa penjahat pasar. Kejadian tersebut konon mengawali kiprah Pitung sebagai pelawan ketidakadilan.

Pitung dewasa dikenal memulai gerakan memberontak bersama teman-temannya. Alasannya: tidak tega melihat rakyat miskin tertindas. Ia bergerilya, merampas, dan merampok harta benda si kaya dan membagikan hasil rampasan ke rakyat miskin.

Berbagai ulah dan keberanian Pitung sontak menimbulkan was-was di kalangan para pemuka Belanda dan penguasa. Hidup mereka sudah terlanjur nyaman. Jagoan Rawa Belong itu dicap pembawa masalah dan keonaran oleh pemerintah kolonial. Ia ditetapkan sebagai buruan Belanda dengan status penjahat kelas wahid di Betawi.

Robin Hood lekat dengan sosoknya. Si jago panah dari hutan Sheerwood, yang legendanya populer di Inggris itu, mirip dengan Si Pitung. Keduanya tidak pernah memakan sendiri hasil jerih payah dan diberikan kepada rakyat kecil.

Pitung konon nyaris ditangkap petinggi polisi Belanda Schout Van Hinne dan pasukannya. Seluruh rumah diperiksa, namun ia tidak pernah menemukan pahlawan Betawi tersebut. Pitung menghilang seperti ditelan bumi. Hidupnya menjadi buron dan kelam.

Saat buron, Pitung pernah singgah di rumah tuan tanah asal Bugis bernama Haji Saipudin di Kawasan Marunda. Rumah panggung bercat merah itu sempat menjadi saksi bisu keberadaan si Pitung.

photo
Rumah Si Pitung di Kawasan Marunda, Jakarta Utara. Konon menjadi salah satu tempat persinggahan Pitung saat menjadi buron kompeni Belanda. (Foto: Devita Savitri)


Memang, ia tidak pernah menetap di sana. Namun, berbagai ruangan, salah satunya kamar yang lengkap dengan tempat tidur berkelambu putih, sempat menjadi peristirahatan sementara jagoan Betawi tersebut.

Rumah itu kini dikenal dengan Rumah Si Pitung. Diangkat sebagai cagar budaya oleh pemerintah Jakarta. Rumah panggung kayu tersebut sering dianggap bagian dari masa buron Bang Pitung.

Kepada Republika, Sejarawan dan Budayawan Betawi Ridwan Saidi menyatakan Pitung sering muncul di berbagai konflik. Hidupnya menjadi buron sejak membunuh kepala daerah Kebayoran yang telah membunuh kerabatnya.

Menurut penelitian Margiet van Teel asal Belanda yang dikutipnya, Pitung muncul pertama kali sejak tahun 1886 dikarenakan konflik dengan seorang keturunan China. Konflik tersebut berujung pembunuhan. Akibatnya Pitung dibui delapan tahun penjara, di daerah Jatinegara.

Pada tahun 1894, ia dipergoki oleh polisi Belanda di daerah Pondok Kopi, Kalimalang. Pemergokan tersebut mengakibatkan Pitung tertembak dan dibawa ke rumah sakit daerah Senen. Sejak saat itu Pitung dikabarkan meninggal dan beritanya menyebar ke seluruh penjuru masyarakat Betawi.

photo
Sejawaran dan Budayawan Betawi Ridwan Saidi di sela sela berbincang dengan Republika. (Foto: Devi Savitri)
Berbagai kisah hebat Pitung kini mulai tenggelam tergulung derasnya perkembangan zaman. Generasi milenial lebih mengenali pahlawan negeri seberang ketimbang Ibu Pertiwi.

Salah satu yang mengakuinya adalah Ihsan (17), asal Jakarta. Ia memang mengenal sosok Pitung. Namun hanya sebagai tokoh Betawi. Pelajar SMA ini menjelaskan lebih mengetahui cerita Iron Man dibanding Pitung.

Alfina (20) juga. Sosok Pitung memang sempat ia kenal karena drama televisi yang ditonton kakaknya. Namun baginya, Pitung kalah pamor dengan cerita superhero masa kini yang lebih modern. Orang tua sekarang juga menurutnya lebih banyak tidak menceritakan cerita rakyat seperti Pitung.

"Mungkin kalau dibuat ulang jadi film lagi, anak-anak zaman sekarang bisa lebih tau cerita Pitung. Soalnya jarang kan anak sekarang yang suka baca dongeng, lebih sering di thread Twitter jadi banyak nggak tau-nya kalau cerita rakyat" ungkap perempuan yang tinggal di Bogor ini.

Sejawaran Ridwan Saidi tidak menampik anak generasi milenial banyak tidak mengetahui cerita kelam Pitung. Penyebabnya, menurut dia, karena berbedanya waktu dan zaman yang dilalui.

Pitung menjadi sosok yang kurang populer di mata milenial. Sebagian memang ada yang  mengetahuinya sebagai bagian sejarah Betawi. Namun itu pun tidak sampai mengenali lebih dalam siapa Bang Pitung.

Si Pitung sudah mati dibilangin saudaranya
Digotong di Kerekot Penjaringan kuburannya
Saya tau orang rumah sakit yang bilangin
Aer keras ucusnya dikeringin

Waktu dikubur pulisi pade iringin
Jago nama Pitung kuburannya digadangin
Yang gadangin kuburan Pitung dari sore sampe pagi
Kalo belon aplusan kaga ada nyang boleh pegi
Sebab yang gadangin waktu itu sampe pagi

Kabarnya jago Pitung dalam kuburan idup lagi
Yang gali orang rante mengaku paye

- Cuplikan lagu balada Betawi menggambarkan kematian Pitung (Batavia, 1740: Menyisir Jejak Betawi)

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA