Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Thursday, 9 Safar 1440 / 18 October 2018

Luis Milla: Kemenangan Kami Dirampok Wasit

Jumat 24 Aug 2018 21:18 WIB

Rep: Bambang Noroyono/ Red: Karta Raharja Ucu

Ekspresi pemain timnas Indonesia Evan Dimas seusai gagal melakukan tendangan ke gawang Uni Emirat Arab dalam pertandingan cabang sepakbola Asian Games 2018 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Jawa Barat, Jumat (24/8).

Ekspresi pemain timnas Indonesia Evan Dimas seusai gagal melakukan tendangan ke gawang Uni Emirat Arab dalam pertandingan cabang sepakbola Asian Games 2018 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Jawa Barat, Jumat (24/8).

Foto: Republika/Edwin Dwi Putranto
Timnas Indonesia U-23 kandas usai ditaklukan Uni Emirates Arab (UEA).

REPUBLIKA.CO.ID, CIKARANG -- Kegagalan Indonesia U-23 melaju ke babak perempat final Asian Games 2018 tak membuat pelatih Luis Milla Aspas kecewa. Namun ia menegaskan kekalahan timnas Garuda dari Uni Emirates Arab (UEA) di babak 16 besar, Jumat (24/8) merupakan hasil laga yang menyakitkan.

“Saya puas dengan permainan tim ini. Tapi hari ini, adalah hari yang kejam kami dapatkan,” ujar Milla di stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Jawa Barat (Jabar), Jumat (24/8).

Milla mengatakan, timnya layak menang dari UEA. Namun kepemimpinan wasit Roberts Shaun Evan dari Australia, membuat timnya harus mengakui kekalahan. “Kemenangan kami dirampok oleh wasit yang tidak punya level memimpin pertandingan Asian Games,” sambung Milla.

Indonesia memang kandas dari UEA saat laga 16 besar Asian Games, pada Jumat (24/8). Saat laga, Indonesia mampu bermain imbang 2-2 dari UEA. Dua gol UEA diciptakan Zayed Alameri yang terjadi lewat dua kali penalti, pada menit ke-20 babak pertama dan menit ke-67 babak kedua. Sedangkan dua gol Indonesia, dicetak Alberto Goncalves dan Stefano Lilipaly yang terjadi pada menit ke-46, dan menit ke-88.

photo

Ekspresi pemain timnas Indonesia seusai dikalahkan Uni Emirat Arab pada babak adu pinalti dalam pertandingan cabang sepakbola Asian Games 2018 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Jawa Barat, Jumat (24/8).

Hasil imbang 2-2 memaksa dua kesebelasan melakoni dua kali babak tambahan. Namun hasil tetap imbang dan berujung adu penalti. Hasilnya membuat Indonesia kandas 3-4 dari UEA. Menurut Milla gagalnya Indonesia melaju ke perempat final Asian Games, bukan karena kualitas permainan yang buruk. Melainkan karena kepemimpinan wasit yang tak layak menjadi pengadil laga kontra UEA.

“Wasit (Robert) sangat tidak puya level untuk memimpin pertandingan,” kata sambung Milla. Bukan cuma tak punya level memimpin pertandingan, Milla juga menilai wasit dari Australia tersebut tak punya hati. “Dia tidak melihat perjuangan anak-anak muda yang sudah bekerja keras di lapangan. Dia tidak punya level,” ujar Milla.

Pelatih asal Spanyol tersebut, pun menyarankan agar penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc) tak lagi menggunakan jasa kepelatihan Robert selama gelaran. Penilaian Milla atas kepemimpinan wasit, baru kali ini dia utarakan.

Selama satu setengah tahun melatih timnas Garuda, tak sekalipun Milla pernah mengkritik kepemimpinan wasit. Tapi kali ini, Milla mengaku marah.

“Saya sangat marah. Saya sangat kecewa dengan wasit yang memimpin pertandingan,” sambung Milla.

photo

Ekspresi pemain timnas Indonesia seusai dikalahkan Uni Emirat Arab pada babak adu pinalti dalam pertandingan cabang sepakbola Asian Games 2018 di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Jawa Barat, Jumat (24/8).

Milla mengungkapkan, saat laga babak pertama kontra UEA, penalti pertama ke gawang Andritany Ardhyasa saat menit ke-20 masih dapat diterima. Akan tetapi penalti kedua pada menit ke-67 babak kedua, tampak janggal.

"Penalti kedua tidak seharusnya terjadi. Karena jelas itu bukan pelanggaran," kata Milla. Penalti tersebut terjadi ketika wasit Robert menganggap Hansamu Yama Pranata menjatuhkan pemain UEA Shaheen Aldarmki di kotak 12 pas.

Bukan cuma memberikan penalti, wasit Roberts bahkan memberikan kartu kuning kepada Hansamu. Sebaliknya, kata Milla wasit tampak membiarkan sejumlah pelanggaran keras yang dilakukan pemain UEA terhadap penggawa Garuda. Bahkan, kata Milla, jatuhnya Stefano Lilipaly di areal pertahanan UEA menjelang pertandingan berakhir, semestinya berujung kartu merah.

“Di 25 menit terakhir, seharusnya UEA bermain dengan 10 orang karena pelanggaran keras. Tapi wasit tidak menunjukkan kelasnya,” sambung Milla.

photo

Pelatih Sepakbola Indonesia, Luis Milla.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA