Kamis 08 Jun 2023 23:37 WIB

Gapgindo Bidik Kontribusi 35 Persen Produksi Gula Kristal Nasional

Kapasitas produksi Gapgindo pada 2023 baru 28 persen dari total produksi nasional.

Pekerja memanggul tebu saat panen.
Foto: ANTARA/Prasetia Fauzani
Pekerja memanggul tebu saat panen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gabungan Produsen Gula Indonesia (Gapgindo) yang terdiri dari delapan pabrik gula membidik kontribusi sebanyak 35 persen dari total produksi gula kristal putih nasional pada 2026.

"Dalam dua tahun sampai tiga tahun mendatang, target kami total produksi delapan pabrik gula akan mencapai 865 ribu ton gula kristal putih atau sekitar 35 persen dari gula kristal putih nasional," kata Ketua Umum GapgindoSyukur Iwantoro dalam Musyawarah Kerja Nasional Gapgindo,di Jakarta Selatan, Kamis (8/6/2023).

Baca Juga

Syukur menyampaikan bahwa kapasitas produksi dari anggota Gapgindo pada 2023 baru berkisar 721.500 ton atau 28 persen dari total produksi gula kristal putih nasional 2023. Pabrik gula tebu yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, NTT, dan Sumatera Selatan itu, katanya lagi, memiliki kapasitas terpasang paling rendah 6.000 ton can day (TCD) dan paling tinggi 15.000 TCD.

Peningkatan kontribusi produksi gula kristal putih oleh Gapgindo, lantaran produksi gula nasional belum mampu memenuhi kebutuhan gula dalam negeri yang mencapai 6,48 juta ton. Gapgindo bertekad untuk menekan jumlah impor gula yang pada 2022 berada di atas satu juta ton.

"Jumlah tersebut ditujukan untuk konsumsi nasional sebanyak 3,21 juta ton dan kebutuhan industri sebesar 3,27 juta ton. Sementara itu produksi gula dalam negeri baru mencapai 2,4 juta ton. Sisanya dipenuhi melalui impor," kata Syukur.

Upaya menggenjot produksi lokal, kata Syukur, turut dilatarbelakangi oleh harga gula internasional yang sedang tinggi. Laporan indeks harga pangan Food and Agriculture Organization mencatat harga gula dunia pada April lalu naik 17,6 persen dibandingkan periode sebelumnya (yoy).

Kenaikan harga gula ini dipicu kekhawatiran berkurangnya pasokan gula dunia setelah prediksi produksi dari India dan China direvisi turun. Produksi gula di Thailand dan Uni Eropa juga lebih rendah dari yang diperkirakan sebelumnya.

Saat ini harga gula di pasar dunia yang diperdagangkan di London lebih dari 700 dolar AS per ton, naik lebih dari 30 persen dalam empat tahun terakhir. "Angka ini juga tertinggi sejak Desember 2011," katanya lagi.

Kenaikan harga gula turut dirasakan di berbagai negara. Di India, harga gula naik dalam empat bulan berturut-turut sampai April 2023. Sementara di Korea Selatan harga gula di sana mencapai angka tertingginya dalam 11 tahun.

Di tengah badai harga gula global tersebut, Gapgindo mengaku tertantang untuk menggenjot produksi dengan mengoptimalkan pemanfaatan teknologi, sehingga meski di lahan terbatas masih mampu meningkatkan produksi. "Gapgindo berusaha mengejar produksi, sehingga diharapkan akan meningkat melalui penggunaan teknologi-teknologi tertinggi. Kami saat ini percaya menanam tebu tidak perlu tanah datar, rawa pun biasa," ujar dia.

Upaya peningkatan produksi gula juga menjadi salah satu upaya Gapgindo untuk mendukung percepatan swasembada gula agar kebutuhan gula nasional dapat dipenuhi dari produksi gula nasional berbasis tebu.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement