Kamis 11 May 2023 05:19 WIB

Praktisi Soroti Kasus Kekerasan Pelajar Terkait Kegagalan Pendidikan Keluarga

Kasus kekerasan Mario di Jakarta dan Aditya di Medan membuktikan kegagalan orang tua.

Praktisi pendidikan Novianty Elizabeth Ayuna.
Foto: Dok Republika
Praktisi pendidikan Novianty Elizabeth Ayuna.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menyikapi munculnya kekerasan fisik yang melibatkan pelaku dan korban yang masih berstatus pelajar terjadi belakangan ini, praktisi pendidikan Novianty Elizabeth Ayuna mengatakan, idealnya pendidikan itu berlangsung di tiga sentra, yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Dia menilai, pemerintah melalui Kemendikbud hingga saat ini telah berusaha mengembangkan berbagai moda pembelajaran karakter termasuk membentuk satu unit khusus untuk itu. "Akan tetapi saya melihat upaya Kemendikbud ini tidak diperkuat secara sinergis oleh kedua sentra pendidikan lainnya," ujar Novianty kepada wartawan di Jakarta, Kamis (11/5/2023).

Kepala Sekolah Putra Pertiwi tersebut menyinggung mengenai peran serta keluarga dan orang tua dalam proses tumbuh kembang anak terutama dalam permasalah pembentukan karakter. Dia menyinggung dua kasus kekerasan yang menyedot perhatian masyarakat luas, yang videonya viral di media sosial (medsos).

Kasus kekerasan Mario Dandy Satriyo, anak seorang pejabat di kantor pajak yang menganiaya Cristalino David Ozora Latumahina hingga koma di Jakarta Selatan maupun Aditya Hasibuan yang merupakan anak AKBP Achiruddin Hasibuan yang berdinas di Polda Sumatra Utara (Sumut) yang menganiaya Ken Admiral di Medan.

"Kedua kasus perundungan yang terjadi di Jakarta dan Medan menunjukkan dengan sangat jelas tentang kegagalan pendidikan oleh keluarga. Kedua kasus itu membuktikan betapa kurangnya kesempatan anak berkumpul dengan orang tua membangun keluarga sebagai miniatur masyarakat yang damai dan menerapkan nilai-nilai sosial yang positif," kata Novianty.

Menurut dia, keluarga yang lebih mengedepankan hidup mewah dan anak dididik dengan suasana materialistik, justru kontraproduktif dalam menanamkan nilai sosial yang luhur. "Demikian juga dengan kasus di Medan. Bahkan orang tua yang merupakan penegak hukum memfasilitasi bullying oleh anaknya. Sangat ironis," ucap Novianty.

Dia melihat kelemahan pendidikan karakter bagi generasi muda disebabkan kurang berfungsinya sentra ketiga, yaitu masyarakat. Salah satu peran masyarakat dalam pembentukan karakter yang menjadi jati diri bangsa, sambung Novianty, adalah sikap keteladanan yang seharusnya diperlihatkan oleh tokoh tokoh masyarakat baik formal maupun informal.

Novianty juga melihat perkembangan dunia medsos yang tidak bisa dibendung, menjadikan generasi peserta didik dapat dengan mudah mendapatkan informasi hanya dengan mengakses melalui layar ponsel. "Begitu pula sikap pamer kekayaan atau flexing yang dilakukan sejumlah tokoh, kalangan selebritas dan selebgram banyak ditiru oleh sebagian generasi muda," kata Novianty.

Dia pun menyimpulkan, sekolah sebagai institusi yang merupakan pemegang elemen penting dari pembentukan karakter generasi muda diharapkan lebih aktif menyikapi dan melihat permasalahan itu lebih komprehensif. Novianty mengeklaim, Sekolah Putra Pertiwi berinisiatif melakukan refleksi diri, khususnya para pendidik dan pembuat kebijakan tentang kurikulum di sekolah yang merupakan bagian dari sentra sekolah.

Novianty mengatakan, pendidikan karakter telah menjadi wacana sentral pendidikan di Indonesia sejak 2010. Kemendikbud pun telah mewajibkan semua sekolah menyisipkan pendidikan budaya dan karakter bangsa dalam proses belajar mengajar di sekolah. 

"Pendidikan karakter dalam kurikulum 2013 bertujuan mengubah sikap pembelajar agar lebih santun melalui nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalamnya. Artinya, jika memiliki sikap dan mental yang terpuji, pembelajar akan mampu menyerap ilmu dengan baik dan tentu menjadi generasi yang bersih," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement