Rabu 10 May 2023 04:29 WIB

Mencari Hamka yang Tak Mau Poligami di Kauman Padang Panjang

Hamka pindah ke Padang Panjang karena menolak perintah poligami dari ayahnya.

Bung Hatta, Pakiah Saleh Eks Dogoelis, dan Buya HAMKA Tahun 1970.
Foto: istimewa, fikrul hanif sufyan.
Bung Hatta, Pakiah Saleh Eks Dogoelis, dan Buya HAMKA Tahun 1970.

Oleh: Fikrul Hanif Sufyan, Penulis Kulliyatul Muballighien dan Pengajar Sejarah di STKIP Yayasan Abdi Pendidikan Payakumbuh, Sumatra Barat.

Tidak terasa, hampir tiga minggu sudah pemutaran film Buya Hamka–biopik karya dari rumah produksi Falcon Pictures. Bagi pencinta dari ulama, sastrawan, wartawan, filosof, penggerak Muhammadiyah, dan politisi Masyumi tersebut, film yang menarasikan hidup HAMKA ini memang sudah lama ditunggu-tunggu. Namun, ada beberapa segmen dalam hidupnya–yang penting untuk kembali ditelisik dalam narasi masa lalu hidupnya. 

Abdul Malik Karim Amrullah – demikian nama lengkapnya, terlahir tanggal 17 Februari 1908 di Sungai Batang Maninjau,  Oud Agam. Ranah kelahirannya di masa kontemporer merupakan bagian dari Kabupaten Agam Sumatra Barat.

Malik, demikian nama kecilnya terlahir dari pasangan Haji Abdul Karim Amrullah (HAKA/Haji Rasul/ Inyiak De eR) dengan Safiyah. Ia anak pertama dari empat orang bersaudara, dengan adiknya masing-masing bernama Abdul Kuddus, Asma, dan Abdul Mu'thi. Haji Rasul menikahi Safiyah  setelah istri pertamanya, Raihana yang merupakan kakak Safiyah meninggal di Mekah. Raihana memberi Malik seorang kakak tiri, bernama Fatimah yang kelak menikah dengan Sutan Mansur. 

Kapan Hamka beranjak dari ranah kelahirannya menuju Padang Panjang? 

Pasca ayah kandungnya kembali dari Mekah, Haji Rasul memboyong Malik yang masih berusia empat tahun ke Padang Panjang. Mengapa harus ke Padang Panjang? Sebab, Haji Rasul sudah diamanahi oleh Syekh Abdullah Ahmad untuk mengisi pengajian di Surau Jembatan Besi,Padang Panjang.

Malik kecil kerap berada di bawah asuhan kakak tirinya Fatimah. Ia diajari membaca Alquran dan bacaan shalat. 

Selain Fatimah, Malik juga belajar mengaji pada Haji Ahmad Chatib gelar Datuk Batuah, murid kesayangan HAKA –juga seorang guru bantu di Sumatra Thawalib (kelak menjadi propagandis Kuminih di tahun 1923). Memasuki umur tujuh tahun, Malik masuk ke Volkschool. 

Tatkala Zainuddin Labay membuka Diniyah School, Malik dimasukkan oleh ayahnya untuk belajar di sana. Pagi harinya ia berjalan kaki menuju Volkschool dan sorenya ia mengikuti pelajaran di Diniyah School. Kesukaannya di bidang bahasa, membuatnya cepat sekali menguasai bahasa Arab. 

HAKA rupanya tidak ingin anaknya melanjutkan ke Schakelschool. Ia menyekolahkan anaknya di Sumatra Thawalib, tempat ia mengajar. Sekolah itu mewajibkan murid-muridnya menghafal kitab-kitab klasik, kaidah mengenai nahwu, dan ilmu saraf. Setelah belajar di Diniyah School, setiap pagi Malik menghadiri kelas Thawalib sore hari. Dan, malamnya kembali ke surau.

 

 

 

 

 

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement