Senin 24 Apr 2023 15:40 WIB

Puasa Syawal dan Herbal Bisa Bantu Ringankan Kerja Liver

Konsumsi herbal merupakan bagian dari penerapan gaya hidup sehat.

Liver (ilustrasi)
Foto: Health
Liver (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) Dr (Cand) dr Inggrid Tania, MSi mengatakan, para Muslim dapat berpuasa pada bulan Syawal dan meminum herbal rutin guna mengeluarkan lemak dan meringankan kerja liver.

"Yang paling utama ketika berlebaran itu pintar mengatur (pola makan) jangan sampai berlebihan mengonsumsi makanan tinggi lemak," ujar dia, Senin (24/4/2023).

Puasa Syawal disunahkan dilakukan selama enam hari pada bulan Syawal, terhitung sejak tanggal 2 Syawal atau sehari setelah shalat Idul Fitri. Selain puasa Syawal, Inggrid juga mengatakan, orang-orang juga dapat mencoba minuman herbal sebelum menyantap makanan tinggi lemak, seperti hidangan opor, gulai yang biasanya disajikan saat Lebaran, semisal teh hijau ditambah kapulaga, teh hijau ditambah jahe atau variasi minuman lainnya misal kunyit, temulawak, biji pala, dan ekstrak vanila.

"(Herbal) itu sebenarnya akan membantu tubuh bisa menormalisasi kembali kadar lemak di dalam darah, sehingga nanti mencegah kolesterol jahat akibat kita memakan makanan tinggi lemak," kata Inggrid.

Herbal ini, menurut dia, bisa dikonsumsi untuk menggantikan minuman manis lainnya yang justru akan memperberat inflamasi atau peradangan di dalam tubuh.

Adapun mereka yang terdiagnosis kolesterol tinggi juga dapat meminum ramuan herbal untuk menurunkan kolesterolnya, misal menurunkan total kolesterol, kolesterol low-density lipoprotein (LDL), menaikkan kolesterol baik atau high-density lipoprotein (HDL).

Inggrid menyebutkan sejumlah herbal, antara lain teh hijau, kunyit, jahe, temulawak, temu kunci, kencur, kemudian rempah-rempah seperti cengkih, pala, lada hitam, kapulaga, bunga atau kembang lawang, bawang putih, lalu sambiloto dan habbatussauda atau biji jinten hitam, bisa untuk menurunkan kolesterol.

Namun, dia mengingatkan, herbal ini harus dikonsumsi secara rutin dan orang-orang perlu tetap mengatur pola makannya. "Bukan berarti minum herbal terus makan seenak saja, tinggi lemak berlebihan," ujar dia.

Inggrid mengingatkan, konsumsi herbal merupakan bagian dari penerapan gaya hidup sehat seperti rutin berolah raga, mendapatkan memiliki kualitas tidur yang baik, mengendalikan stres yang semuanya akan berpengaruh pada kadar kolesterol dalam tubuh.

Terkait puasa usai Ramadhan, pakar gizi dari Burjeel Medical City di Abud Dhabi, Rayan Ali mengatakan para muslim dapat mempertimbangkan puasa dua kali seminggu. Menurut dia, penelitian ilmiah menunjukkan puasa intermiten menyehatkan tubuh dan pikiran.

Selain puasa, Ali juga merekomendasikan orang-orang aktif berolahraga pasca Ramadhan karena kegiatan ini memungkinkan tubuh menghasilkan hormon bahagia yang disebut endorfin, yang membantu mengendalikan rasa lapar dan berdampak positif pada suasana hati.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement