Jumat 21 Apr 2023 17:44 WIB

Udara Kotor Bikin Tidur Terganggu, Jika tak Diatasi Bisa Timbulkan Penyakit

Pentingnya lingkungan kamar tidur untuk tidur berkualitas tinggi.

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Qommarria Rostanti
Tidur (ilustrasi). Udara kotor dapat memengaruhi kualitas tidur.
Foto: ww.freepik.com
Tidur (ilustrasi). Udara kotor dapat memengaruhi kualitas tidur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Penelitian mengungkapkan, polusi udara, panas, dan tingkat karbon dioksida yang tinggi, serta kebisingan dapat memengaruhi kemampuan untuk tidur nyenyak. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Health ini adalah salah satu yang pertama mengukur beberapa variabel lingkungan di kamar tidur.

Penelitian tersebut juga menganalisis hubungannya dengan efisiensi tidur, atau waktu yang dihabiskan untuk tidur relatif terhadap waktu yang tersedia untuk tidur. Para peneliti menemukan, dalam kelompok yang terdiri atas 62 peserta yang diamati selama dua pekan dengan monitor aktivitas dan catatan tidur, tingkat polusi udara kamar tidur yang lebih tinggi (materi partikulat berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau PM2.5), karbon dioksida, kebisingan, dan suhu semuanya terhubung untuk menurunkan efisiensi tidur.

Baca Juga

"Temuan ini menyoroti pentingnya lingkungan kamar tidur untuk tidur berkualitas tinggi," kata penulis utama studi dan profesor di University of Pennsylvania, AS, Mathias Basner dilansir Hindustan Times, Kamis (20/4/2023).

Peneliti menyatakan, lingkungan yang berubah dengan cepat karena perubahan iklim tampaknya membuat seseorang lebih sulit mendapatkan tidur malam yang nyenyak. Gangguan yang sering terjadi berpotensi memengaruhi produktivitas kerja dan kualitas hidup. Kondisi ini juga dikaitkan dengan risiko penyakit kronis yang lebih tinggi, termasuk penyakit jantung, diabetes tipe 2, depresi, dan demensia.

Tim tersebut, termasuk peneliti dari University of Louisville, AS, mengamati peserta dari National Institutes of Health Green Heart Project yang menyelidiki dampak penanaman 8.000 pohon besar terhadap kesehatan jantung penduduk Louisville. Untuk setiap variabel lingkungan yang diukur, para peneliti membandingkan efisiensi tidur selama paparan hingga 20 persen level tertinggi versus level 20 persen terendah.

Penelti menemukan bahwa kebisingan tinggi dikaitkan dengan penurunan 4,7 persen dalam efisiensi tidur, karbon dioksida tinggi dengan pengurangan 4 persen, suhu tinggi dengan penurunan 3,4 persen, dan PM2.5 tinggi dengan pengurangan 3,2 persen. Dua variabel lingkungan tidur lainnya yakni kelembapan relatif dan tekanan barometrik tampaknya tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan efisiensi tidur di antara para peserta.

“Kita mungkin terbiasa secara subyektif dengan lingkungan kamar tidur, dan merasa tidak perlu memperbaikinya, padahal sebenarnya tidur kita mungkin terganggu malam demi malam,” ujar Basner.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement