Sabtu 15 Apr 2023 21:51 WIB

Aksi Komite Pesantren Peduli Guru Penyintas Gempa Cianjur

Masih ada trauma di dalam diri peserta yang merupakan guru agama.

Giat Kopera di Cugenang, Cianjur, Jawa Barat.
Foto: Dok Kopera
Giat Kopera di Cugenang, Cianjur, Jawa Barat.

REPUBLIKA.CO.ID, CIANJUR- Sebagai bentuk kepedulian terhadap para guru agama yang mengajar di Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA)se-Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat,Komite Pesantren Ramah Anak (Kopera) mengadakan kegiatan pelatihan konseling kebencanaan dan pemberian hadiah Lebaran berupa uang tunai kepada 74 guru dari 74 MDTA se-Kecamatan Cugenang pada Kamis (13/04/2023). Sebagian MDTA ini berada di pondok pesantren karenanya dapat disenergikan dengan program dan kegiatan Kopera.

“Giat yang dilakukan oleh Kopera ini bertujuan memberikan pengetahuan dan keahilan dasar kepada para peserta untuk melakukan konseling kebencanaan kepada diri sendiri dan juga bisa diterapkan kepada orang lain. Sebab, pasca gempa Cianjur, masih ada trauma di dalam diri peserta yang merupakan guru agama. Jika mereka sebagai guru agama masih memiliki trauma dan beban mental yang belum teratasi, bagaimana mereka bisa mengajar dengan baik?” Ujar Ketua Pembina Kopera, KH Rakhmad Zailani Kiki yang akrab dipanggil dengan nama Ustadz Kiki, dalam siaran persnya kepada Republika, Sabtu (15/4/2023). 

photo
Ketua PW RMI-NU DKI Jakarta, KH Rakhmad Zailani Kiki. - (Dok RMI)

 

Lebih lanjut, Ustaz Kiki menjelaskan bahwa dipilihnya Kecamatan Cugenang sebagai tempat kegiatan Kopera karena merupakan epicentrum gempa Cianjur yang terjadi pada Senin, November 2022 lalu. Cugenang menderita kerusakan bangunan yang sangat parah dan korban jiwa yang lebih banyak dibandingkan dengan kecamatan-kecamatan lainnya di Kabupatan Cianjur, Jawa Barat. Dari hasil survei gempa oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga ditemukan adanya patahan aktif Cugenang yang melintasi delapan desa di Kecamatan Cugenang dan satu desa di Kecamatan Cianjur.

Desa-desa yang dilintasi yani Desa Ciherang, Desa Ciputri, Desa Cibeureum, Desa Nyalindung, Desa Mangunkerta, Desa Sarampad, Desa Benjot, dan Desa Cibulakan Kecamatan Cugenang. Sementara satu desa di Kecamatan Cianjur yang dilintasi sesar tersebut, yakni Desa Nagrak.“Sembilan desa tersebut, yang delapan desa berada di Kecamatan Cugenang, oleh BMKG dinyatakan tidak layak huni dan BMKG mendesak pemerintah daerah Cianjur untuk segera merelokasi pemukiman warga di sepanjang zona patahan atau Sesar Cugenang tersebut.Pasalnya, area seluas kurang lebih 9 kilometer tersebut dinyatakan sebagai zona berbahaya untuk dihuni karena rawan terjadi gempa bumi. Para peserta ini ya masih kebingungan sampai saat ini, mau pindah ke mana? Tinggal pun membuat was-was. Ini menambah beban mental juga selain trauma gempa yang harus diatasi. Karenanya, adanya pelatihan konseling oleh KOPERA  ini sedikit banyak sudah bisa membantu meringankan trauma dan beban mental para peserta,” ujar Ustaz Kiki.

Menurut Ustaz Kiki,  pelatihan konseling kebencanaan yang diberikan oleh salah seorang pakar konseling kebencanaan yang juga Ketua Kopera,  Hena Rustiana, S.Psi, CFP  diikuti oleh para guru agama dari 74 MDTA se-Kecamatan Cugenang yang terundang dan tergabung di FKDT (Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah) Kecamatan Cugenang.

Namun yang bisa hadir dan mengikuti acara sampai selesai berjumlah i 66 MDTA sedangkan 8 MDTA lagi akan diberikan pelatihan konseling kebencanaan oleh KOPERA di kesempatan yang lain. Selain itu, setiap peserta diberikan hadiah Lebaran berupa uang tunai sebesar Rp. 100 ribu untuk menggembirakan para peserta. Hadiah Lebaran tersebut berasal dari sumbangan para donatur yang digalang oleh Kopera

Kopera atau Komite Pesantren Ramah Anak merupakan lembaga yang dibentuk oleh PW RMI-NU DKI Jakarta bekerja sama dengan Yayasan Sibghatullah Jakarta dan Kesehatan Mental Indonesia atau KMI pada tanggal 5 Oktober 2022.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement