Kamis 13 Apr 2023 20:52 WIB

Harga Beras di Kota Makassar Mulai Naik Jelang Lebaran

Harga beras medium mengalami kenaikan rata-rata Rp 5.000 per zak.

Pedagang beras (ilustrasi). Harga beras medium di sejumlah pasar tradisional di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada pertengahan pekan ini, mulai bergerak naik akibat pasokan dari petani berkurang saat mendekati Idul Fitri 1444 Hijriah.
Foto: Republika/M Fauzi Ridwan
Pedagang beras (ilustrasi). Harga beras medium di sejumlah pasar tradisional di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada pertengahan pekan ini, mulai bergerak naik akibat pasokan dari petani berkurang saat mendekati Idul Fitri 1444 Hijriah.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Harga beras medium di sejumlah pasar tradisional di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada pertengahan pekan ini, mulai bergerak naik akibat pasokan dari petani berkurang saat mendekati Idul Fitri 1444 Hijriah.

"Dalam pekan ini, harga beras medium mengalami kenaikan rata-rata Rp 5.000 per zak, sebab stok petani berkurang," kata Hj Nurbaya, salah seorang pedagang di Pasar Terong Makassar, Kamis (13/4/2023).

Baca Juga

Dia mengatakan untuk beras medium maupun premium yang rata-rata naik 5 ribu per zak (25 kg) pada awal Ramadhan 1444 Hijriah/ 2023. Harga beras ukuran zak 5 kg saat ini dijual seharga Rp 59 ribu, padahal pekan lalu hanya ditawarkan Rp 54 ribu per kantong. Sedang beras ukuran 25 kg per zak dijual Rp 315 ribu dari harga sebelumnya Rp 310 ribu.

Pedagang beras di Pasar Pannampu Makassar, H Rahim mengatakan, akibat mulai terjadinya kenaikan harga beras, maka para pedagang terpaksa harus menyediakan modal yang lebih banyak dari biasanya untuk membayar beras petani.

Kenaikan harga beras di pasaran itu, diakui Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura dan Perkebunan Sulsel, Imran Jausi. Dia mengatakan pergerakan harga beras tersebut sedikit banyaknya dipengaruhi kondisi cuaca ekstrem, sehingga produksi petani tidak maksimal pada musim tanam akhir 2022. "Sebagian sawah petani terendam, sehingga harus beberapa kali menanam bibit. Kondisi ini menyebabkan masa panen mundur dan juga produksi tidak optimal," kata Imran.

 

sumber : ANTARA
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement