Sabtu 08 Apr 2023 14:10 WIB

Menhub: 62,5 Persen Pemudik dari Pulau Jawa

Puncak arus mudik diprediksi akan terjadi pada 19 sampai dengan 21 April 2023.

Rep: Muhammad Nursyamsi/ Red: Agus Yulianto
Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi berkunjung ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Ahad (19/3/2023).
Foto: Dok. Humas BIJB Kertajati
Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi berkunjung ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati, Ahad (19/3/2023).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pergerakan orang di masa mudik Lebaran 1444 H, bakal lebih tinggi di bandung tahun sebelumnya. Ini terjadi karena adanya berbagai faktor yang mendukung mereka untuk mudik pilang kampung.

Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi memprediksi 123,8 juta orang yang melakukan pergerakan di masa mudik lebaran tahun ini. Dari jumlah itu, dia menyebut, 77,3 juta atau 62,5 persen berasal dari pulau Jawa. 

"Provinsi Jawa Timur daerah tertinggi yang menjadi daerah asal mudik yaitu sebesar 21,2 juta orang atau 17,1 persen dan menjadi daerah tujuan mudik kedua tertinggi setelah Jawa Tengah yaitu sebesar 24,6 juta atau 19,87 persen," ujar Budi dalam keterangan tertulis di Jakarta, Sabtu (8/4/2023).

Untuk itu, Budi ingin memastikan, infrastruktur dan pelayanan di semuda moda transportasi telah siap untuk menghadapi lonjakan pergerakan masyarakat di arus mudik dan balik lebaran. Dia telah melakukan pengecekan kesiapan sarana dan prasarana transportasi di Jawa Timur.

"Potensi lonjakan pergerakan masyarakat yang akan mudik di Jawa Timur ini sangat tinggi. Oleh karenanya, kami terus berkoordinasi intensif dengan operator transportasi yang ada di sini, untuk memastikan persiapan dilakukan dengan baik, agar pelaksanaan arus mudik dan balik berjalan dengan aman dan memberikan kesan yang baik di masyarakat," ucap Budi.

Dia juga melakukan pengecekan kesiapan Bandara Juanda menghadapi lonjakan penumpang dan pergerakan pesawat di arus mudik dan balik lebaran. Budi menilai, penanganan lonjakan arus mudik dan balik di moda transportasi udara relatif lebih terkendali dibandingkan dengan moda transportasi darat. 

"Karena masyarakat yang datang ke bandara sudah memiliki tiket sehingga sudah dapat diketahui dari awal pergerakan penumpang dan pesawat perharinya. Tetapi tetap harus dipersiapkan dengan serius," lanjut Budi.

Budi menyampaikan sejumlah langkah antisipasi lainnya juga telah disiapkan menghadapi lonjakan penumpang dan peningkatan pergerakan pesawat, di antaranya melakukan inspeksi keselamatan atau ramp check pesawat udara mulai 11 April hingga 2 Mei 2023, mengoptimalkan pengoperasian pesawat, dan menambah jam operasional bandara.

Selain itu, Kemenhub melalui Ditjen Perhubungan Udara juga akan melakukan pengawasan dengan ketat terhadap penerapan tarif tiket pesawat agar tidak melewati Tarif Batas Atas (TBA) yang telah ditetapkan dan akan memberikan sanksi bagi maskapai yang melakukan pelanggaran. 

"Kemenhub telah meminta operator bandara dan maskapai secara proaktif memberikan informasi yang jelas kepada calon penumpang dan penumpang pesawat serta masyarakat umum tentang besaran tarif tiket pesawat," ucap Budi.

Selanjutnya, untuk mendorong masyarakat melakukan perjalanan mudik lebih awal agar tidak menimbulkan kepadatan di hari puncak menjelang lebaran, Kemenhub mengimbau kepada operator transportasi, termasuk penerbangan untuk memberikan tarif promo di tanggal-tanggal awal mudik. Adapun puncak arus mudik diprediksi akan terjadi pada 19 sampai dengan 21 April 2023.

Berdasarkan prediksi Badan Kebijakan Transportasi Kemenhub, sambung Budi, sebanyak 6,19 juta orang atau lima persen dari total pergerakan masyarakat akan melakukan perjalanan menggunakan pesawat pada arus mudik dan balik. 

"Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut telah disiapkan sebanyak 412 pesawat pada 51 bandara domestik dan 16 bandara internasional," kata Budi.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement