Senin 03 Apr 2023 09:05 WIB

Bank Dunia Naikkan Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI Jadi 4,9 Persen

Bank Dunia menilai Indonesia salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi luar biasa

Rep: Novita Intan/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9 persen pada 2023. Sebelumnya Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,8 persen pada tahun ini.
Foto: EPA-EFE/Bagus Indahono
Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9 persen pada 2023. Sebelumnya Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,8 persen pada tahun ini.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 4,9 persen pada 2023. Sebelumnya Bank Dunia memproyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 4,8 persen pada tahun ini.

Kepala Ekonom Bank Dunia di Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo mengatakan Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi luar biasa.

“Indonesia berhasil menghadapi guncangan dalam negeri, bahkan ketika pandemi Covid-19, perang Ukraina, dan pengetatan keuangan, Indonesia tetap tumbuh ekonominya," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (3/4/2023).

Menurutnya Indonesia juga merupakan negara yang sukses membangun kebijakan makroekonomi untuk menanggulangi krisis berbagai sektor, serta sektor jasa dalam negeri yang sangat ekspansif.

“Jadi saya tidak setuju dengan asesmen pesimistis tentang Indonesia,” ucapnya.

Mattoo menyebut menuanya secara cepat penduduk negara-negara utama di Asia Timur dan Tenggara menimbulkan serangkaian tantangan dan risiko baru yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi, keseimbangan fiskal, dan kesehatan.

“Deglobalisasi, penuaan, dan perubahan iklim membayangi prospek pertumbuhan kawasan yang telah berkembang pesat melalui perdagangan dan menua dengan cepat ini,” ucapnya.

Dia menilai kawasan Asia Timur dan Pasifik rentan terhadap risiko iklim, sebagian akibat tingginya kepadatan penduduk dan aktivitas ekonomi di wilayah pesisirnya.

“Namun, promosi perdagangan, penanganan dinamika populasi, dan peningkatan ketahanan iklim akan dapat memperkuat pertumbuhan,” ucapnya.

Sementara itu Wakil Presiden Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Manuela V. Ferro memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik tumbuh 5,1 persen pada 2023 atau naik dari sebelumnya 3,5 persen pada tahun lalu. Hal ini didorong oleh pulihnya perekonomian China yang diproyeksi sebesar 5,1 persen, dari tiga persen tahun lalu.

“Pertumbuhan ekonomi sebagian besar negara lain kawasan Asia Timur dan Pasifik diperkirakan melambat setelah mengalami penguatan tahun lalu,” ucapnya.

Meski mengalami penguatan, menurutnya, kawasan ini memiliki risiko tertahan oleh perlambatan pertumbuhan global, kenaikan harga komoditas, dan pengetatan keuangan sebagai tanggapan terhadap inflasi yang terus-menerus, menurut laporan World Bank’s East Asia and Pacific April 2023 Economic Update.

Pertumbuhan kawasan Asia Timur dan Pasifik, kecuali China, diperkirakan akan melambat menjadi 4,9 persen dari pemulihan kuat pasca Covid-19 sebesar 5,8 persen pada 2022. Hal ini karena inflasi dan peningkatan utang rumah tangga beberapa negara membebani konsumsi.

“Sebagian besar negara utama di Asia Timur dan Pasifik telah melewati masa sulit selama pandemi tetapi kini mereka perlu menavigasi lanskap dunia yang berubah,” ucapnya.

“Guna mendapatkan kembali momentum, masih ada upaya-upaya yang perlu ditempuh untuk mendorong inovasi dan produktivitas, serta membangun landasan untuk pemulihan yang lebih hijau,” lanjutnya.

Di antara negara-negara yang lebih besar di kawasan ini termasuk Indonesia, Filipina, dan Vietnam, diprediksi memiliki laju pertumbuhan lebih moderat pada 2023 dibandingkan 2022.

"Sebagian besar negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik telah mengalami pertumbuhan yang lebih tinggi dan lebih stabil dibandingkan negara-negara di kawasan lain selama dua dekade terakhir. Hasilnya, terjadi penurunan kemiskinan yang signifikan dan, dalam dekade terakhir, penurunan ketimpangan," ucapnya.

Namun, pergerakan untuk mengejar tingkat pendapatan per kapita negara-negara maju telah terhenti dalam beberapa tahun terakhir karena pertumbuhan produktivitas dan laju reformasi struktural telah melambat.

"Mengatasi kesenjangan reformasi yang signifikan, terutama sektor jasa, dapat memperbesar dampak revolusi digital dan mendorong produktivitas di berbagai sektor mulai dari ritel dan keuangan hingga pendidikan dan kesehatan," ucapnya.

Manuela menyebut perekonomian kawasan juga harus mengatasi tiga tantangan penting seiring dengan upaya para pembuat kebijakan untuk mempertahankan dan mempercepat pertumbuhan ekonomi pasca Covid-19. Ketegangan yang meningkat antar mitra dagang utama akan memengaruhi arus perdagangan, investasi, dan teknologi di seluruh kawasan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement