Ahad 26 Mar 2023 15:07 WIB

Pertahankan Pengaruh, Wapres AS Lakukan Lawatan Tur ke Afrika

AS ingin melawan pengaruh Cina yang semakin besar di kawasan Afrika.

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Nidia Zuraya
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris melakukan lawatan tur ke Afrika selama sepekan. Salah satu tujuan dari rangkaian kunjungannya adalah melawan pengaruh Cina yang semakin besar di kawasan tersebut.
Foto: AP Photo/Manuel Balce Ceneta
Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris melakukan lawatan tur ke Afrika selama sepekan. Salah satu tujuan dari rangkaian kunjungannya adalah melawan pengaruh Cina yang semakin besar di kawasan tersebut.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Kamala Harris melakukan lawatan tur ke Afrika selama sepekan. Salah satu tujuan dari rangkaian kunjungannya adalah melawan pengaruh Cina yang semakin besar di kawasan tersebut.

Harris diagendakan tiba di Ghana pada Ahad (26/3/2023). Dia bakal berada di negara tersebut selama tiga malam. Setelah itu, Harris akan berada di Tanzania selama dua malam dan Zambia selama semalam. Harris dijadwalkan kembali ke Washington pada 2 April mendatang.

Baca Juga

“Ini adalah perjalanan untuk mendukung para reformis. Ketiga negara tersebut telah melalui tantangan dan perubahan yang signifikan,” kata Vanda Felbab-Brown, salah satu direktur dari Africa Security Initiative di Brookings Institution.

Ghana menghadapi krisis utang dan inflasi tinggi. Pada saat bersamaan, Ghana juga mewaspadai ketidakstabilan dari kelompok-kelompok militan Islam dan tentara bayaran Rusia yang beroperasi di negara-negara utara Ghana. Sementara itu Tanzania sedang membuka lembaran baru politik. Sebab presiden perempuan pertama negara tersebut, Samia Suluhu Hassan, telah mencabut larangan adanya partai oposisi dan demonstrasi.

Zambia pun sedang mengukir perubahannya sendiri, seperti dekriminalisasi pencemaran nama baik presiden. Namun kemajuan demokrasi di Tanzania dan Zambia tetap dinilai masih rapuh. Mantan duta besar AS untuk Botswana Michelle Gavin menyambut lawatan tur Kamala Harris ke tiga negara Afrika tersebut.

“Sudah terlalu lama, pembentukan kebijakan luar negeri AS telah memperlakukan Afrika seperti semacam proyek kredit tambahan dan bukan bagian dari kurikulum inti. Saya melihat upaya besar untuk mengubah pemikiran itu sekarang. Tapi itu butuh waktu,” kata Gavin.

Inti dari perjalanan Harris adalah pidato di Accra dan kunjungan ke Kastil Cape Coast, tempat orang-orang Afrika yang diperbudak pernah dimuat ke kapal ke Amerika. Harris juga berencana bertemu para pemimpin dari setiap negara yang dia kunjungi dan meletakkan karangan bunga untuk memperingati pengeboman Kedutaan Besar AS di Dar es Salaam, ibu kota Tanzania tahun 1998.

Rencana perjalanan Harris juga mencakup beberapa perhentian yang tidak terlalu tradisional yang dimaksudkan untuk menyoroti masa depan dinamis sebuah benua di mana usia rata-ratanya hanya 19 tahun. Harris berencana mengunjungi studio rekaman dan bertemu dengan para pengusaha wanita di Accra. Dia pun diagendakan menyambangi inkubator teknologi di Dar es Salaam. Di Lusaka, ibu kota Zambia, Harris diperkirakan akan bertemu dengan para pemimpin bisnis dan filantropi untuk membicarakan perluasan akses ke sistem digital dan keuangan.

Suami Kamala Harris, Doug Emhoff, turut serta dalam lawatan tur istrinya ke Afrika. Emhoff memiliki fokus serupa untuk acaranya. Selama di Ghana, dia diagendakan melakukan pertemuan dengan para aktor dari acara televisi lokal di balai kota. Dia pun dijadwalkan menghadiri klinik bola basket putri dan berkeliling perusahaan cokelat milik wanita.

Menurut para pejabat AS, rangkaian kegiatan Harris dan Emhoff, dapat menggambarkan Afrika sebagai tempat investasi, bukan hanya kawasan yang dipandang selalu membutuhkan bantuan. Hal itu pun ditekankan Harris saat berpartisipasi dalam KTT AS-Afrika di Washington pada Desember tahun lalu.

Para pejabat tinggi AS telah berhati-hati dalam menggambarkan lawatan tur Harris ke Afrika. Mereka menghindari rangkaian kunjungan itu memiliki motif lain. Misalnya, memperkuat posisi Washington dalam persaingan geopolitik di kawasan tersebut. “Ada keraguan dan skeptisisme yang sangat besar tentang daya tahan Amerika. Mereka sangat akrab dengan janji-janji Amerika yang mereda dan tidak berarti banyak,” ujar Daniel Russel, mantan pejabat Departemen Luar Negeri AS yang kini bekerja di Asia Society Policy Institute.

Hal itu sangat kontras dengan Cina. Sebab Negeri Tirai Bambu telah memimpin proyek infrastruktur yang luas serta memperlebar operasi telekomunikasi di sana. Kendati demikian, pekan lalu juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS John Kirby mengklaim, para pemimpin Afrika baru mulai menyadari bahwa Cina sebenarnya bukan teman mereka.

“Kepentingan Cina di kawasan itu murni egois, berbeda dengan AS. Kami benar-benar berkomitmen untuk mencoba membantu teman-teman Afrika kami menghadapi serentetan tantangan,” ujar Kirby. 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement