Jumat 10 Mar 2023 11:51 WIB

Jalur Sutra dalam Catatan Petualang Muslim dan Inisiatif Cina

Jalur Sutra sempat membuat separuh dunia kaya raya dan hidup damai.

Peta one belt one road, obor yang merupakan jalur sutra baru dinisiasi Cina
Foto: linkedin
Peta one belt one road, obor yang merupakan jalur sutra baru dinisiasi Cina

Oleh : Nashih Nasrullah, Jurnalis Republika

REPUBLIKA.CO.ID,  Cina meluncurkan Inisiatif Belt and Road (BRI) pada 2013. Skema ini merupakan inisiatif pembangunan dan investasi dari Asia Timur melalui Timur Tengah hingga Eropa. Inisiatif tersebut mendorong Cina untuk mengembangkan hubungan dengan negara-negara di sepanjang jalur Belt and Road melalui koordinasi politik, konektivitas infrastruktur, integrasi perdagangan, dan keuangan.

BRI menjadi daya tawar dan daya tarik Cina untuk memperkuat posisi politik dan ekonominya di level global. Proyek ambisius senilai trilunan dolar AS itu ingin mengembalikan nilai strategis Jalur Sutra pada masa lalu yang sempat membuat separuh dunia kaya raya dan hidup damai. Kehadiran BRI juga menjadi daya tawar sendiri bagi negara-negara Islam yang konon pernah menjadi perlintasan dari Jalur Sutra ini, tak terkecuali Indonesia.

Berbicara persinggungan Jalur Sutra dan dunia Islam, menarik kembali untuk membuka lembaran sejarah. Tak sulit melacak persentuhan dunia Islam dengan jalur sutra yang merupakan akses utama menuju negara-negara Asia dan sekitarnya ketika itu. Banyak catatan perjalanan yang ditulis baik oleh para cendekiawan maupun para penjelajah Muslim.

Ibnu Jabir, misalnya, ia keluar dari Spanyol pada 1183 menuju Makkah untuk pergi berhaji. Perjalanan itu ia lakukan dengan niat terhapuskan dari dosa akibat seteguk alkohol yang ia minum. Ia melintasi berbagai wilayah berikut aneka budaya dan etnis.

Baca juga : Xi Jinping Terpilih Kembali, Jadi Presiden Cina untuk Tiga Periode Berturut-turut

Catatan perjalanannya itu ia tuangkan ke dalam sebuah karya yang diberi tajuk Tadzkirat al-Akhbar 'an Ittifaq al-Asfar. Kitab yang manuskripnya masih tersimpan baik di Perpustakan Leiden, Belanda, dengan tulisan tangan tertanda di Makkah sekira 1470 M ini, menjadi rujukan penting bagi para cendekiawan Muslim, seperti al-Muqrizi dan Ibnu Batutah. Bahkan, dianggap sebagai referensi utama dalam kajian di Barat dan dialihbahasakan ke berbagai bahasa.

Bila ditelusuri, pada periode awal Islam, ekspedisi yang melewati jalur sutra tersebut telah dilakukan ke kawasan timur jauh atau yang kerap mereka sebut dengan syarq al-aqsha. Destinasi utama mereka ketika itu adalah Cina. Tak hanya Cina bahkan.

Perjalanan itu mencakup pula Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Malakalah yang menjadi gerbang utama masuknya Islam ke Asia Tenggara. Dari Semenanjung Malaka, Islam bersentuhan dengan bangsa Melayu yang kemudian tersebar ke seluruh kawasan regional.

Pada puncak perdagangan pada era Dinasti Tang dan Song abad ke-7 hingga abad ke-13, cukup banyak bermunculan komunitas dan permukiman Arab di beberapa daerah perdagangan Cina. Di antaranya, di Chang-An (Xi-An), Yangzhou, Ningpo, dan kota-kota pelabuhan Guangzhou dan Quanzhou di Cina dan Champa di Semenanjung Indocina.

Baca juga : Kanada Selidiki Dugaan Kantor Polisi Cina Beroperasi di Quebec

Ekspedisi besar-besaran ke berbagai penjuru dunia memang masif dilakukan sejak abad ke-2 Hijriyah pada masa para khalifah pengganti Rasulullah SAW. Syekh ar-Ribwah dalam kitab Nukhbat ad-Dahrmengatakan, kuat dugaan sebanyak 32 utusan yang dikirim oleh Khalifah Utsman bin Affan untuk ekspedisi ke Cina pada abad ke-3 Hijriyah, pernah singgah, dan mengenalkan Islam ke Indonesia. Wilayah nusantara merupakan jalur transportasi utama yang paling mudah menuju Cina.

Inilah mengapa Sayyid Alawi bin Thahir al-haddad, dalam bukunya Tarikh Intisyar al-Islam fi as-Syarq al-Aqsha, menyebutkan keberadaan saudagar Muslim Sulaiman a-Sairafi yang pernah berkunjung ke Sulawesi pada abad kedua Hijriyah. Rempah-rempah menjadi komoditas yang paling dicari oleh para pedagang Arab Muslim pada masa itu.

Hanya, bedanya pada awal misi ekspedisi tersebut belum muncul kesadaran untuk mendokumentasikan kisah perjalanan mereka. Bisa jadi ada, tetapi tak sampai pada tangan kita sekarang. Entah akibat dimakan usia, ikut terbakar saat keruntuhan Baghdad, atau memang benar-benar tak ada dokumentasi sama sekali.

Berbeda dengan gairah penjelajahan pada abad-abad berikutnya. Mereka bahkan menerima permintaan langsung dari berbagai pihak untuk membukukan laporan petualangan mereka. Seperti pengalaman al-Idrisi. Karyanya yang berjudul Nuzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq sengaja ditulis merupakan permintaan langsung dari penguasa Spanyol saat itu, yakni Roger II. Meski non-Muslim, pemimpin tersebut cinta terhadap kemajuan ilmu pengetahuan.

Baca juga : Ini yang Haram Dilakukan Ayah Ketika Anak Perempuannya Dewasa

Begitu juga dengan latar belakang penulisan Tuhfah an-Nazhar fi Gharaib al-Amshar wa 'Ajaib al-Asfar. Penulisnya yang tak lain adalah Ibnu Batutah, semula tak berniat membukukan kisah perjalanannya selama berpetualang.

Namun, setelah mendapat saran dan dorongan dari sejumlah kalangan, terutama Sultan Maroko, Abu Affan Faris al-Mutawwakil, generasi ke-11 Kesultanan Bani Marinid (Maryan), akhirnya pada 1354 M, dia berkenan berbagi cerita melalui dokumentasi sebuah buku dan berhasil diselesaikan pada 1355 M.

Kitab ini pun menjadi referensi penting dalam rekonstruksi Islamisasi nusantara. Dalam karyanya tersebut, Ibnu Batutah mengisahkan pengalamannya selama berada di Sumatra yang saat itu dikuasai oleh Kerajaan Samudera Pasai.

Lagi-lagi, peranan tulis-menulis begitu besar untuk kemanusiaan. Aktivitas tersebut menghubungkan generasi melintasi batas waktu dan ragam peradaban. Belakangan, muncul gairah dari para pemikir Muslim untuk menguak kembali korelasi yang kuat antara Cina dan dunia Islam, terutama negara-negara Timur Tengah dari romantika sejarah jalur sutra hingga Revolusi Arab meletus.

Melalui bukunya yang berjudul Cina and the Middle East from Silk Road to Arab Spring, Muhammad Alimat, seorang dekan di Universitas Khalifa Abu Dhabi, mengungkapkan hubungan yang sangat kompleks antara Cina dan negara-negara di Timur Tengah pada era modern.

Baca juga : Dua Remaja Bogor Duel dengan Sajam, Satu Tewas

Korelasi ini tentu berlangsung cukup lama sejak abad ke-6 Masehi. Bahkan, sebelum kedatangan Islam, pada 1000 sebelum Masehi, masyarakat Timur Tengah pernah menyusuri jalur sutra untuk berniaga dengan bangsa Cina.

Hubungan tersebut berlanjut hingga sekarang. Tidak hanya soal perdagangan, tetapi juga kebudayaan, militer, hingga urusan politik. Cina memegang peran vital dalam Revolusi Arab. Bersama Rusia, Cina pernah menolak resolusi PBB untuk menumbangkan rezim Basyar al-Asad di Suriah.

Penolakan ini mendapat reaksi keras dari penduduk Arab yang menginginkan sebaliknya. Untuk pertama kalinya saat itu, berbeda dengan AS dan Israel yang kerap menjadi bulan-bulanan, bendera Cina dibakar sebagai protes atas kebijakan tersebut.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement