Kamis 02 Mar 2023 16:13 WIB

Istilah Slow Travel Jadi Tren, Apa Bedanya dengan Traveling Biasa?

Ada rekomendasi liburan berkualitas dari traveler berpengalaman yaitu slow travel.

Rep: Rahma Sulistya/ Red: Qommarria Rostanti
Slow travel (ilustrasi). Traveler berpengalaman merekomendasikan traveling dengan cara slow travel.
Foto: www.freepik.com
Slow travel (ilustrasi). Traveler berpengalaman merekomendasikan traveling dengan cara slow travel.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak sekali orang yang merasa ingin liburan lagi setelah kembali dari liburannya. Mereka merasa liburannya terasa cepat berlalu dan mengunjungi banyak destinasi yang membuat lelah.

Ada satu rekomendasi liburan berkualitas dari para traveler berpengalaman yaitu slow travel. “Slow travel lebih mengutamakan kualitas dibandingkan kuantitas,” kata salah satu pendiri situs informasi perjalanan The Vacationer, Phil Dengler, dilansir Huff Post, Rabu (1/3/2023).

Baca Juga

Mereka yang menjalani slow travel biasanya akan lebih memilih untuk membenamkan diri dalam budaya lokal destinasinya. Seperti namanya, slow travel umumnya memperlambat dan menikmati setiap momen, tidak terburu-buru mencentang itinerary. Vice president situs perjalanan Kayak, Paul Jacobs, mendefinisikan slow travel dengan tinggal di satu tempat lebih lama dan masuk lebih dalam ke budaya lokal.

Dia meyakini slow travel sudah semakin populer dengan merujuk pada data yang menunjukkan lama menginap di hotel sudah naik 10 persen pada 2023 dibandingkan tahun lalu. Namun, slow travel tidak selalu membutuhkan waktu lama di satu tempat.

Bagi pakar perjalanan dan travel blogger, La Carmina, slow travel adalah pendekatan meditatif untuk bepergian. “Ini tentang hadir sepenuhnya serta menikmati pemandangan, suara, dan sensasi di sekitar destinasi wisata tanpa gangguan, membiarkan pengalaman itu terungkap dengan kecepatannya sendiri dan tanpa ekspektasi,” kata Carmina.

Mengenal penduduk setempat, budaya, serta gaya hidup mereka secara lebih dekat dan autentik, akan menciptakan pengalaman dan kenangan berharga yang dapat dibawa lama setelah kembali ke rumah. Bahkan hal itu dapat membuat koneksi dan persahabatan yang mendalam untuk kembali lagi.

“Jika bepergian dengan anak-anak, slow travel adalah cara yang baik untuk mengenalkan mereka pada perjalanan internasional dan membuat mereka melihat perbedaan budaya,” kata travel vlogger, Mark Wolters.

Ketika anak-anak bermain di taman bermain lokal bersama dengan anak-anak lain, mereka akan melihat bahwa tidak banyak perbedaan antara mereka dan anak-anak di negara baru yang dikunjungi ini. 

Slow travel dimaksudkan untuk menjalin waktu bersama keluarga agar lebih bermakna. Ada keuntungan praktis dari pendekatan slow travel.

Selain transit antartujuan yang lebih sedikit, slow travel juga cenderung memerlukan lebih sedikit perjalanan dengan mobil dalam satu tujuan karena aktivitasnya lebih sedikit. Wisatawan juga bisa tidak terburu-buru untuk pergi dari satu tempat ke tempat lain, dan bisa menikmati perjalanan sengan transportasi umum.

Tidak ada cara yang tepat untuk melakukan slow travel, tetapi ada beberapa faktor yang berguna untuk diingat jika ingin memaksimalkan pengalaman liburan.

“Daftar itinerary harus sangat pendek atau tidak ada sama sekali. Saat mengunjungi suatu tempat atau tujuan, usahakan memahami maknanya daripada hanya mencentang daftarnya,” kata Dengler.

Tahan godaan untuk melihat setiap pemandangan. Buatlah dalam satu hari itu hanya mengunjungi satu tempat saja.

Pertimbangkan untuk tinggal di losmen rumahan atau hotel yang jauh dari tempat turis, untuk mengetahui tempat tinggal penduduk setempat. Manfaatkan ketenangan dan relaksasi yang juga tidak dapat ditemukan pada area ramai.

Jika menyewa hotel jauh dari angkutan umum atau hanya ingin menjelajah sedikit lebih jauh, bisa menyewa mobil untuk menawarkan kesempatan bergerak dengan leluasa. Ini menyenangkan karena bepergian sendiri akan mudah menepi jika menemukan pemandangan bagus.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement