Kamis 02 Mar 2023 09:20 WIB

Inflasi DIY Kembali Meningkat pada Februari 2023

Meningkatnya inflasi DIY didorong oleh pola musiman pada komoditas pangan utama.

Rep: Silvy Dian Setiawan/ Red: Fernan Rahadi
Inflasi (ilustrasi)
Inflasi (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Bank Indonesia (BI) DIY mencatatkan bahwa laju inflasi kembali meningkat di Februari 2023. Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) DIY, Budiharto Setyawan mengatakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) DIY pada Februari 2023 mengalami inflasi sebesar 0,27 persen (mtm) berdasarkan hasil rilis BPS.

IHK tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan Januari yakni 0,17 persen (mtm). Dengan perkembangan tersebut, maka secara tahunan inflasi IHK DIY tercatat sebesar 6,28 persen (yoy).

"(Inflasi IHK) meningkat dibandingkan Januari 2023 6,05 persen (yoy), sehingga realisasi inflasi tahunan DIY Februari 2023 relatif lebih tinggi dibandingkan nasional yang sebesar 5,47 persen (yoy)," kata Budiharto dalam keterangan resminya Rabu (1/3/2023) malam.

Budiharto menuturkan meningkatnya inflasi DIY di Februari didorong oleh pola musiman pada komoditas pangan utama, yakni beras dan bawang merah. Komoditas beras masih menjadi penyumbang utama inflasi meski telah dilakukan operasi pasar dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di berbagai kecamatan di DIY.

Sedangkan, kata Budi, untuk komoditas bawang merah meski telah terjadi panen di beberapa tempat, serta mulai masuknya pasokan dari beberapa wilayah di luar DIY, namun kenaikan harga masih terjadi. Kenaikan komoditas bawang merah ini sejalan dengan masih tingginya permintaan.

"Diperkirakan tekanan harga bawang merah kedepan semakin rendah sejalan dengan masa panen, dan masuknya impor bawang merah antar daerah termasuk dari Sulawesi Selatan," ujar Budiharto.

Meski begitu, Budiharto menuturkan bahwa peningkatan laju inflasi tertahan dengan berlanjutnya penyesuaian tarif angkutan udara, serta penurunan harga telur. Berlanjutnya penurunan tarif angkutan udara karena berakhirnya masa berlaku penerapan biaya tambahan oleh maskapai, yang mana menjadi faktor penahan laju inflasi di DIY.

"Selain itu, tarif juga turun seiring dengan normalisasi permintaan terhadap angkutan udara yang terjadi pada periode off season pariwisata domestik," jelasnya.

Selaras dengan normalisasi tarif angkutan udara, harga telur ayam ras juga melanjutkan deflasi seiring dengan meningkatnya ketersediaan pasokan. Ia menyebut, produksi dari peternak ayam petelur sudah mulai normal, setelah sempat mengalami pemotongan jumlah populasi akibat harga yang jatuh saat pandemi melanda.

"Berdasarkan pantauan BI melalui PIHPS, rata-rata harga telur ayam ras di DIY pada Februari 2023 mencapai Rp 26,7 ribu per kilogram, turun dari Januari 2023 yang mencapai Rp 28 ribu per kilogram. Harga ini berada di bawah harga acuan Bapanas pada tingkat konsumen yakni Rp 27 ribu per kilogram," terang Budi.

Melihat kondisi saat ini, pihaknya bersama stakeholder lainnya berupaya untuk mengantisipasi risiko inflasi kedepannya di DIY. Terutama menjelang Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri, yang mana selalu terjadi kenaikan harga bahan pokok dan juga mulai meningkatnya mobilitas masyarakat ke kondisi pra-pandemi.

"BI bersama pemda melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) DIY terus bersinergi mencermati kondisi Inflasi dalam rangka menjaga ketersediaan pasokan, dan kelancaran distribusi, serta memperkuat koordinasi guna menjaga inflasi tetap rendah dan stabil," katanya.

Upaya sinergi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan TPID akan terus dilanjutkan. Yakni difokuskan melalui operasi pasar, kerja sama antar daerah (KAD), optimalisasi penggunaan lahan pekarangan atau pengembangan pertanian off-season, serta terus melakukan monitoring implementasi kebijakan Harga Eceran Tertinggi (HET).

"Hal-hal tersebut tersebut merupakan perwujudan komitmen BI, pemerintah, serta seluruh stakeholder guna mencapai inflasi 2023 sesuai kisaran targetnya sebesar 3,0±1 persen," lanjut Budiharto.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement