Rabu 01 Feb 2023 15:37 WIB

Harga Minyak Naik karena Inflasi AS yang Melambat Redakan Ketakutan Resesi

Kedua harga acuan minyak naik untuk hari kedua berturut-turut.

Sejumlah nelayan mengisi BBM untuk kebutuhan melaut di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Nelayan (SPBN) di Pelabuhan Carocok Tarusan, Kabupaten Pesisir Slaetan, Sumatera Barat, Kamis (8/12/2022). Harga minyak naik di perdagangan Asia pada Rabu (1/2/2023) sore.
Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Sejumlah nelayan mengisi BBM untuk kebutuhan melaut di Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Nelayan (SPBN) di Pelabuhan Carocok Tarusan, Kabupaten Pesisir Slaetan, Sumatera Barat, Kamis (8/12/2022). Harga minyak naik di perdagangan Asia pada Rabu (1/2/2023) sore.

REPUBLIKA.CO.ID, MELBOURNE -- Harga minyak naik di perdagangan Asia pada Rabu (1/2/2023) sore. Tanda-tanda perlambatan inflasi di Amerika Serikat meredakan ketakutan bahwa pengguna minyak terbesar di dunia itu mungkin menghadapi resesi ketika kenaikan suku bunga lebih lanjut dan dolar yang lebih lemah mendukung beberapa minat beli.

Minyak mentah berjangka Brent naik tipis 8 sen atau 0,1 persen, menjadi diperdagangkan di 85,54 dolar AS per barel pada pukul 07.27 GMT. Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terangkat 20 sen atau 0,2 persen, menjadi diperdagangkan di 79,07 dolar AS per barel.

Baca Juga

Kedua harga acuan minyak naik untuk hari kedua berturut-turut, setelah naik sekitar 1,0 persen di sesi sebelumnya.

"Sentimen bergeser di tengah musim pelaporan keuangan perusahaan yang positif. Tanda-tanda pendinginan inflasi juga meningkatkan ekspektasi bahwa Fed akan dapat menghentikan kenaikan suku bunga," kata analis komoditas ANZ dalam sebuah catatan.

Ekspektasi kenaikan suku bunga membantu menurunkan indeks dolar, yang mendukung harga minyak karena pelemahan greenback membuat komoditas lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang lainnya.

Semua mata akan tertuju pada pertemuan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+ pada Rabu, di mana para produsen diharapkan akan mendukung target produksi mereka saat ini yang disepakati pada November.

Produksi minyak OPEC turun pada Januari, karena ekspor Irak turun dan produksi Nigeria belum pulih, dengan 10 anggota OPEC memompa 920.000 barel per hari (bph) di bawah volume yang ditargetkan grup berdasarkan perjanjian OPEC+, sebuah survei Reuters menemukan. Kekurangan itu lebih besar dari defisit 780.000 barel per hari pada Desember.

"Harga minyak tampaknya siap menghadapi periode volatilitas yang tinggi OPEC+ kemungkinan akan tetap pada target produksinya saat ini, namun Rusia condong ke arah peningkatan ekspor minyak ke pembeli Asia dengan diskon besar, yang dapat mengganggu keseimbangan di pasar minyak," kata pakar pasar minyak independen Sugandha Sachdeva.

Peningkatan prakiraan pertumbuhan global oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan ekspektasi kuatnya permintaan terpendam dari China di tengah mobilitas yang lebih tinggi juga mendukung harga minyak, tambah Sachdeva.

Secara terpisah, data dari kelompok industri American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS naik sekitar 6,3 juta barel dalam pekan yang berakhir 27 Januari, menurut sumber pasar. Itu adalah peningkatan yang lebih besar dari rata-rata 400.000 barel yang diperkirakan oleh para analis yang disurvei oleh Reuters.

Sementara itu, stok sulingan yang meliputi solar dan minyak pemanas, naik sekitar 1,5 juta barel, bertentangan dengan ekspektasi para analis untuk penurunan 1,3 juta barel.

 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement